Industri Properti Bergeliat, Permintaan Gedung Kantor di CBD Naik

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembangunan gedung bertingkat di kawasan Kebayoran, Jakarta, Jum'at (30/1). Menurut analisis properti Cushman and Wakefield, bisnis properti perkantoran di pusat distrik bisnis Jakarta diperkirakan lesu. TEMPO/Tommy Satria

    Pembangunan gedung bertingkat di kawasan Kebayoran, Jakarta, Jum'at (30/1). Menurut analisis properti Cushman and Wakefield, bisnis properti perkantoran di pusat distrik bisnis Jakarta diperkirakan lesu. TEMPO/Tommy Satria

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsultan properti Jones Lang LaSalle atau JLL Indonesia menyatakan dalam laporan triwulan pertama 2018, terjadi kenaikan permintaan gedung kantor Grade A sebesar 15 persen di area pusat bisnis. Head of Research JLL Indonesia James Taylor menyebutkan, hal ini terlihat dari perkembangan teknologi yang melahirkan sejumlah bisnis baru berbasis teknologi dan hendak membuka kantor di kawasan ini.

    "Seperti misalnya online marketplace, Coworking, Fintech, Online Gaming, dan Travel Booking. Mereka berekspansi sampai 15 persen ke area gedung Grade A sampai kuartal pertama tahun ini," terang James di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 4 April 2018.

    Baca: Jangan Salah Pilih Properti, Teliti 5 Hal Sebelum Membeli Rumah

    James menjelaskan, banyak tenant bermigrasi dari Grade B ke Grade A karena persiapan infrastruktur yang sangat memadai di sekitar CBD. Misalnya saja seperti mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT).

    Selain infrastruktur, pelemahan sektor industri minyak dan gas memang telah menggeser para tenant jenis perusahaan tersebut dengan perusahaan berbasis teknologi. "Terhitung sejak 2017 pada kuartal 4 sampai kuartal pertama 2018 ada kenaikan penyerapan perkantoran dari 151.000 meter persegi menjadi 240,000 meter persegi," kata James.

    Secara khusus pada triwulan pertama 2018 ini, penyerapan perkantoran CBD mencapai 52.000 meter persegi, namun persentase okupansi CBD baru mencapai 78 persen. Prospek penyewaan perkantoran CBD meningkat sampai 2019.

    Dalam jangka panjang, kemungkinan pasokan juga akan berkurang namun okupansi meningkat. "Penyewaan sampai 2019 akan tertekan dan baru stabil 2020 setelahnya. Harga sewa di CBD ini menurun 2018, 2019, dan baru meningkat 2021," tutur James.

    James menyatakan permintaan yang meningkat awal tahun ini memang masih didominasi perkantoran Grade A. Dalam triwulan pertama ini saja, ada dua tower yang berhasil selesai dibangun. Dua bangunan ini adalah District & Treasury dan Prosperity Tower dengan menambah pasokan sebesar 189.000 meter persegi.

    Adapun kedua tower ini berada di SCBD, Sudirman. "Sehingga, total stok yang ada saat ini mencapai 6 juta meter persegi. Pasokan tambahan yang akan datang diprediksikan sekitar 1,4 juta meter persegi," kata James.

    Sementara itu, Head of Markets JLL Indonesia Angela Wibawa mengatakan aktivitas properti selama triwulan pertama tahun ini mencerminkan konsistensi tingkat permintaan yang bertumbuh sejak tahun lalu. "Tingkat hunian dan harga sewa di kawasan CBD saat ini masih berada dalam tren penurunan mengingat jumlah pasokan yang diperkirakan bertambah secara signifikan tahun 2018," ujarnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.