Mengaku dari Call Center BRI, Rekening Pastor di Sibolga Dibobol

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penjagaan bank dan gerai ATM di Bank BRI Kampus, Jember. TEMPO/Fully Syafi

    Penjagaan bank dan gerai ATM di Bank BRI Kampus, Jember. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang pastor yang bertugas di Sibolga, Sumatera Utara, menjadi korban kejahatan pembobolan bank setelah rekening atas namanya di BRI cabang Sibolga dibobol pria yang mengaku petugas call center BRI pada Jumat, 9 Februari 2018. Dana di dalam rekeningnya sebesar Rp 34 juta pun lenyap hanya tempo beberapa menit.

    "Si pelaku mengaku dari call center BRI saat menelepon ke telepon seluler saya," kata Pastor Mangasi Albert Simbolon saat diwawancarai Tempo melalui telepon selulernya, Sabtu, 10 Februari 2018.

    Baca: BRI Ancam Pecat Pegawai yang Terlibat Penjualan Data Nasabah

    Menurut Pastor dari Ordo Kapusin ini, pembobolan rekening atas namanya itu semuanya dilakukan via telepon saat dia antre untuk memeriksa kesehatannya pada satu klinik di Sibolga.

    Pembobolan itu berawal ketika dia antre, Pastor Mangasi menerima telepon dari nomor +6614017. Seorang pria dengan suara tenang memperkenalkan diri sebagai Rahmat Maulana, petugas call center BRI yang akan melakukan verifikasi data nasabah. Mangasi merupakan nasabah Britama Prioritas dan dana di dalam rekening itu bukan milik pribadinya, melainkan dana Ordo Kapusin.

    "Mengatakan mau verifikasi, tapi dia tidak menanyakan nama saya. Dia yang menyebut nama saya sesuai KTP, alamat, sampai nomor ATM dan nomor rekening saya dia beri tahu," kata Pastor Mangasi.

    Beberapa saat berbicara, karena jaringan kurang baik, pria itu kemudian berganti nomor telepon dengan menggunakan nomor telepon seluler yang diawali dengan nomor 0822999... Dia pun menghubungi nomor telepon seluler milik Mangasi yang biasa digunakan untuk aktivasi bank. Padahal nomor telepon seluler itu tidak diberi tahu oleh Mangasi.

    Baca: OJK: 327 Nasabah BRI Mataram Laporkan Pembobolan Rekening

    Kecurigaan pastor yang sudah lima tahun bertugas di Sibolga itu muncul ketika pembobol makin detail menjelaskan tentang jumlah poin untuk ikut gebyar promo BRI, serta mengatakan akan mengirimkan nomor verifikasi, dan nomor verifikasi itu memang muncul pada telepon selulernya.

    "Saya mulai curiga sejak pembacaan nomor verifikasi. Mengapa harus ada verifikasi," ujarnya.

    Karena perawat sudah memanggilnya, Pastor Mangasi ingin mengakhiri pembicaraan dengan pembobol. Namun, pembobol malah memberi pesan agar telepon seluler tetap aktif. Namun, dia memutuskan menonaktifkan telepon selulernya.

    Segera Pastor Mangasi menghubungi petugas BRI Sibolga yang dikenalnya selama ini, tapi ternyata sudah dipindahtugaskan ke Balige, Sumatera Utara. Ia meminta bantuan agar rekeningnya diblokir karena dia yakin rekeningnya sudah dibobol pria itu.

    Baca: Cara Baru Bobol Duit Nasabah: Beli Kartu ATM 'Aspal'

    Dan ternyata dugaannya benar. Petugas BRI yang dihubungi Pastor Mangasi membenarkan rekeningnya sudah dibobol. Ada tujuh transaksi yang dimulai dari pukul 11:46 hingga 12:01. Jumlah dana yang dikuras Rp 34.989.600.

    Pagi tadi, Pastor Mangasi menyerahkan kronologi pembobolan rekeningnya ke kantor BRI cabang Sibolga sesuai permintaan pihak BRI. Dia juga melaporkan peristiwa ini ke Kepolisian Resor Sibolga.

    Hingga laporan ini diturunkan, menurut Pastor Mangasi, belum diketahui pembobolnya. Polisi masih mengejar pelaku dengan berkoordinasi dengan aparat polisi lainnya.

    Pastor Mangasi pun mengingat janji BRI bahwa setiap nasabah prioritas mendapat proteksi khusus. Jika ada transaksi mencurigakan, security alarm di BRI akan langsung memberitahukan nasabah.

    "Ternyata alarm tidak bekerja, buktinya tidak ada dari bank menghubungi saya. Justru saya yang memberitahukan mereka," ujarnya menyesalkan BRI tidak menepati janjinya sehingga dia menjadi korban kejahatan pembobolan bank.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).