Dirut Garuda Indonesia Jelaskan Penyebab Jadwal Pesawat Molor

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Garuda Indonesia Pahala Mensury saat memberi sambutan dalam ngobrol tempo di gedung tempo, Jakarta Barat, 15 Juni 2017. TEMPO/Rizki Putra

    Direktur Garuda Indonesia Pahala Mensury saat memberi sambutan dalam ngobrol tempo di gedung tempo, Jakarta Barat, 15 Juni 2017. TEMPO/Rizki Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai Garuda Indonesia berjanji tidak akan mengulangi keterlambatan penerbangan yang mengakibatkan ratusan penerbangan dibatalkan dan dijadwal ulang beberapa waktu lalu. Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N. Mansury menyebutkan sejumlah langkah akan dilakukan, seperti mempercepat komunikasi dan koordinasi terkait dengan pembatalan, memastikan pengawasan data, serta memperbaiki kualitas kinerja operasional penerbangan.

    "Agar tidak terulang lagi, sekarang (saat) kami dalam kondisi mengalami kesulitan, maka hal-hal yang dilakukan pembatalan bisa dikomunikasikan sesegera mungkin, kemudian memastikan data-data, setiap hari kita monitor, dan semua hal itu memperbaiki kualitas kondisi operasional," katanya ketika melakukan peninjauan di Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat, 8 Desember 2017.

    Pahala menjelaskan, penyebab keterlambatan tersebut adalah penyesuaian kru dan pilot akibat banyaknya penerbangan yang terdampak penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai akibat erupsi Gunung Agung.

    Penerbangan di Bali memegang porsi 30 persen dari seluruh operasional penerbangan Garuda Indonesia. Dia menyebutkan kru pilot dan kabin yang terdampak penjadwalan ulang penerbangan (reschedule) berjumlah sekitar 800 orang.

    "Begitu itu terjadi, perlu melakukan reschedule kru kabin dan kokpit serta perlu dilakukan bersama. Sistem kami mengalami kendala sehingga puncaknya terjadi penurunan jumlah kru akibat bandara ditutup. Kami kesulitan melakukan penugasan tepat pada waktunya," ujar Pahala.

    Dia menuturkan penjadwalan ulang terjadi berbarengan dengan pengaturan sistem teknologi informasi di internal maskapai. "Karena penurunan kinerja sistem dan perubahan bersama," ucapnya.

    Pahala menambahkan, terkait dengan migrasi sistem teknologi informasi, terjadi penyesuaian sebelum penutupan Bandara Ngurah Rai, Denpasar. "Kita sudah melakukan mitigasi selama periode kurang-lebih 18 hari, juga menjalankan operasi dengan dua sistem secara paralel, tetapi memang yang tidak bisa kita prediksikan penutupan bandara, sehingga ada perubahan jadwal yang signifikan dan mempengaruhi kinerja sistem percepatan, maka pada tanggal 1 ada penurunan dan kendala operasional penugasan kru tersebut," tuturnya.

    Karena itu, ke depan, Pahala mengatakan akan lebih mengedepankan sistem kontingensi, yakni komunikasi dan koordinasi dengan cepat terkait dengan pengambilan keputusan, baik mengenai penjadwalan ulang maupun pembatalan penerbangan, memastikan data penumpang akurat, dan meningkatkan kualitas kinerja.

    "Sehingga kecepatan kita perbaiki. Bersamaan, kita memastikan data dalam sistem sesuai dengan keadaan sebenarnya, dan manual kita rekonfirmasi terhadap data-data yang ada," katanya.

    Pahala mengaku kerugian yang dialami akibat pembatalan penerbangan itu tidak signifikan. Dalam sehari, dia menyebutkan pergerakan penerbangan Garuda mencapai 620 penerbangan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, sekitar 160 penerbangan mengalami pembatalan dalam waktu empat hari.

    Dia mengklaim ketepatan waktu penerbangan (on time performance) Garuda Indonesia saat ini sudah kembali normal, yaitu mencapai 97 persen.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.