Bangun Megaproyek Listrik, Ini Detail Kondisi Keuangan PLN

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Dirut PT PLN Sofyan Basir (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri ESDM Ignasius Jonan (kanan) meninjau lokasi proyek PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Desa Terate, Serang, Banten, 5 Oktober 2017. Secara simbolis Presiden meresmikan peletakan batu pertama pembangunan tiga proyek serta pengoperasian satu unit PLTU IPP berkapasitas 660 MW dengan total nilai investasi Rp35 triliun serta menyerap tenaga kerja lebih dari tiga ribu orang. ANTARA FOTO

    Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Dirut PT PLN Sofyan Basir (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri ESDM Ignasius Jonan (kanan) meninjau lokasi proyek PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Desa Terate, Serang, Banten, 5 Oktober 2017. Secara simbolis Presiden meresmikan peletakan batu pertama pembangunan tiga proyek serta pengoperasian satu unit PLTU IPP berkapasitas 660 MW dengan total nilai investasi Rp35 triliun serta menyerap tenaga kerja lebih dari tiga ribu orang. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Satuan Komunikasi Korporat Perusahaan Listrik Negara (PLN) I Made Suprateka mengatakan kemampuan pendanaan PLN cukup untuk membangun listrik 35.000 MW.

    Porsi PLN dalam pendanaan pembangunan infrastruktur listrik 35.000 MW yaitu Rp 585 triliun dari total biaya keseluruhan Rp 1.200 triliun.

    "Yang 35.000 ini, 10.000-nya dibangun PLN yang 25.000-nya dibangun oleh IPP, swasta," kata I Made Suprateka dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Aula Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kamis, 30 November 2017.

    Simak: Proyek 35 Ribu MW, PLN Kaji Beban Listrik Nasional

    Dari pembangunan 35.000 MW menurut Suprateka juga membangun, transmisi 46.800 kms, dan Gardu Induk 109.200 MVA.

    "Untuk pembangkit Rp 200 triliun, transmisi dan distribusi, kabel transmisi begitu tower-towernya dan tower induknya Rp 385 triliun," kata Suprateka.

    Menurut Suprateka sebelum PLN memiliki program 35.000 MW, PLN belum melakukan financial engineering. "Begitu kita menyiapkan program 35.000 MW manajemen PLN melakukan revaluasi aset," kata Suprateka.

    "Dengan dilakukannya revaluasi aset, aset PLN naik berkali-kali lipat. Dulu asetnya Rp 850 triliun, setelah revaluasi menjadi Rp 1.350 triliun, equity 850 triliun," kata Suprateka.

    Pada 2014, ratio utang terhadap modal, yaitu 297 persen, sedangkan pada 2017 menjadi 49 persen. Dengan begitu menurut Suprateka saat ini PLN sedang dalam kondisi baik.

    "Tidak ada keinginan PLN untuk menaikkan harga," ujar Suprateka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.