Komoditas Jeblok, Survei Schroder: Investor Beralih ke Properti

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah stan pengembang dalam pameran Festival Properti di Kota Kasablanka, Jakarta, 14 November 2017. Pameran ini diikuti 54 pengembang. Tempo/Tony Hartawan

    Sejumlah stan pengembang dalam pameran Festival Properti di Kota Kasablanka, Jakarta, 14 November 2017. Pameran ini diikuti 54 pengembang. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi menjelaskan, 21 persen responden di Indonesia memilih berinvestasi di sektor properti. "Mengapa ingin berinvestasi (di properti), mungkin karena harga komoditas sedang turun," ucapnya di Jakarta, Kamis, 23 November 2017. Sedangkan 21 persen lain memilih berinvestasi di jenis lain, seperti saham, obligasi, dan komoditas.

    Pernyataan Michael didasarkan pada hasil Survei Studi Investor Global Schroders 2017. Survei tersebut menyebutkan orang-orang kini lebih tertarik menyisihkan dana untuk berinvestasi daripada menabung. Meski demikian, rupanya investor masih mengharapkan pengembalian investasi yang tidak realistis.

    Baca: Festival Properti Catat Kenaikan Transaksi Hingga 5 Kali Lipat

    Proporsi 21 persen responden yang memilih berinvestasi di sektor properti ini lebih besar dari data survei yang didapat secara global dan Asia yang hanya 13 persen. Michael menduga hal tersebut disebabkan kecenderungan budaya Indonesia yang kuat untuk menginvestasikan disposable income di properti. “Harga properti yang relatif lemah belakangan ini membuat investor yakin bahwa penawaran properti saat ini cukup menarik,” ujarnya.

    Di peringkat berikutnya, responden Indonesia rupanya menaruh perhatian investasi untuk hari tua atau masa pensiun. Hasil survei menunjukkan 14 persen investor memilih berinvestasi untuk pensiun. Michael menilai hal itu wajar karena sebagian besar perusahaan di Indonesia belum menyoroti tentang pentingnya dana pensiun atau tidak ada kewajiban (mandatory). "Di luar negeri, perusahaan menyiapkan dana pensiun," katanya.

    Schroders melakukan survei terhadap lebih dari 22 ribu investor. Survei dilakukan sepanjang Januari-Juni 2017 di 30 negara, termasuk Indonesia.

    Meski minat terhadap investasi tinggi, Michael menyoroti hal lain, yaitu mengenai harapan imbal hasil. Hasil survei menunjukkan responden di Indonesia mengharapkan imbal hasil yang tidak realistis dalam kurun waktu lima tahun. "Rata-rata harapan imbal hasilnya 17,1 persen," tuturnya.

    Sedangkan respons di Eropa rata-rata imbal hasil yang diharapkan hanya 8,7 persen, Amerika Serikat 11,7 persen, Asia 11,7 persen. Selama 30 tahun terakhir, indeks Morgan Stanley Capital International sendiri memberi imbal hasil 7,2 persen.

    Negara-negara Asia yang menempatkan investasi sebagai prioritas tertinggi di antaranya Cina sebesar 45 persen, Taiwan 45 persen, Hong Kong 39 persen, dan Jepang 38 persen. Korea Selatan melawan tren investasi dan lebih memilih menempatkan dalam deposito atau membeli properti dan hanya sebesar 12 persen yang memilih berinvestasi di pasar modal.

    Berikut ini prioritas penggunaan dana (pendapatan) setelah dikurangi membayar kewajiban dan tagihan berdasarkan hasil Survei Studi Investor Global Schroders 2017di Indonesia.
    - 21 persen investasi di saham, obligasi, komoditas
    - 21 persen investasi atau membeli properti
    - 19 persen investasi dalam bisnis sendiri
    - 14 persen investasi untuk masa pensiun
    - 12 persen simpan di rekening tabungan
    - 4 persen membeli kemewahan (liburan, kendaraan, acara khusus)
    - 4 persen beramal
    - 3 persen melunasi utang
    - 2 persen menyimpan uang tunai di rumah

    SATRIA DEWI ANJASWARI | RR ARIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?