Mendag Sebut Warung dan Pasar Tradisional Bertahan karena Ibu-Ibu

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas jual beli di pasar tradisional Pasar Paseban, Jakarta, 21 Oktober 2017. Saat ini PD Pasar Jaya tengah fokus menyelesaikan revitalisasi 16 pasar tradisional hingga akhir tahun 2017. TEMPO/Subekti.

    Aktivitas jual beli di pasar tradisional Pasar Paseban, Jakarta, 21 Oktober 2017. Saat ini PD Pasar Jaya tengah fokus menyelesaikan revitalisasi 16 pasar tradisional hingga akhir tahun 2017. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita yakin warung atau pasar tradisional tidak akan mati tergerus oleh minimarket dan e-commerce. Menurutnya pasar dan warung tradisional memiliki ceruk sendiri yang berbeda dengan modern.

    “Pasar tradisional punya segmen sendiri. Berbelanja di sana bisa memuaskan hobi ibu-ibu menawar. Satu perak, dua perak pasti mereka tawar,” kata Enggar di Cikokol, Tangerang, Sabtu 18 November 2017.

    Simak: Pasar Tradisional Masih Dominasi Penjualan Ritel

    Enggar mengatakan, pasar dan warung tradisional menawarkan kepuasan tersendiri bagi konsumen untuk bisa menawar. Ia mengatakan hal ini terlepas dari faktor harga yang murah ataupun lokasi warung yang strategis.

    “Pasar tradisional tidak akan hilang. Pemerintah akan menjaga ini agar ada keseimbangan di dalam perdagangan,” kata dia.

    Enggar optimistis pelaku ritel seperti warung tradisional dan modern (minimarket) akan bertahan. Ia mengatakan masyarakat sudah malas untuk berpergian sehingga mereka mencari lokasi terdekat untuk memperoleh barang kebutuhan.

    Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mendey optimistis ritel masih mengalami pertumbuhan di tengah perkembangan perdagangan online. Namun ia menambahkan, terjadi perlambatan pertumbuhan di industri ritel dari tahun ke tahun.

    “Semester satu kita hanya empat persen, diharapkan di semester kedua tujuh sampai delapan persen,” kata dia.

    Menurut Roy, salah satu faktor yang paling mempengaruhi perlambatan tersebut adalah perilaku konsumen yang berubah. Roy mengatakan, produktivitas masyarakat menengah ke bawah tahun ini rendah sehingga berdampak pada menurunnya konsumsi.

    Sedangkan menengah ke atas mengubah pola belanjanya dari produk barang ke kuliner dan rekreasi. 

    Roy yakin pedangan ritel juga masih akan bertahan dalam menghadapi perdagangan digital. Menurut paparan Roy, e-commerce hanya berdampak sebanyak 1,4 persen terhadap penurunan industri ritel.

    “E-commerce belum terlalu siginifikan dampaknya bagi peritel,” kata Roy.

    ALFAN HILMI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?