Kamis, 15 November 2018

Utang Menumpuk, Bakrie Telecom Terancam Tinggal Papan Nama

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PT. Bakrie Telecom Tbk (BTEL) - Esia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    PT. Bakrie Telecom Tbk (BTEL) - Esia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak usaha Grup Bakrie yang bergerak di sektor telekomunikasi, PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL), mengurangi jumlah karyawan hingga 28 persen atau 400 dari 1.400 total karyawannya untuk menekan biaya operasional. Namun, analis PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee, menganggap langkah ini tak berdampak signifikan untuk memperkuat perusahaan. "Efisiensi untuk menurunkan beban operasional tetap tidak banyak membantu selama produktivitas rendah," katanya kepada Tempo, Ahad malam, 15 Maret 2015.

    Hans Kwee memprediksi BTEL akan sulit bertahan dalam industri telekomunikasi. Terlebih lagi jumlah utang BTEL dianggap melebihi kemampuan finansial perusahaan tersebut. "Restrukturisasi utang hanya langkah menunda, bukan menyembuhkan penyakit yang sebenarnya," kata Hans Kwee. Menurut Hans, cara membayar utang sekaligus untuk memperkuat perusahaan adalah dengan merger atau akuisisi dengan perusahaan yang sangat kuat.

    Sebabnya, kata Hans Kwee, produksi utama BTEL, yakni Esia, yang masih mengandalkan layanan suara harus segera bermigrasi ke layanan data yang membutuhkan investasi yang sangat besar. "Investasi dalam teknnologi ini tidak sanggup dikerjakan sendiri oleh BTEL lantaran butuh modal yang sangat besar. Apalagi teknologi CDMA (Code Division Multiple Acess) sudah lama ditinggalkan orang," kata Hans Kwee.

    BTEL mulai mencatatkan rugi bersih sejak 2011 dan mencatatkan ekuitas negatif sejak 2013. Pada 2011 perusahaan merugi Rp 782,7 miliar, kemudian utang kian melonjak menjadi Rp 3,13 triliun pada 2012 dan Rp 2,64 triliun pada 2013. Pada tiga bulan pertama 2014, laporan perusahaan keuangan sempat membukukan laba bersih Rp 210 miliar karena terdongkrak selisih kurs. Namun pada kuartal ketiga 2014, BTEL mencatatkna rugi bersih yang membengkak menjadi Rp 1,52 triliun.

    Perusahaan juga mencatatkan defisiensi modal Rp 3,3 triliun pada triwulan III 2014. Jumlah ini melonjak dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1 triliun. Di sisi lain jumlah utang sudah melampaui nilai aset perusahaan. Nilai liabilitas BTEL per September 2014 Rp 10.940 triliun adalah 143 persen dibandingkan jumlah aset perusahaan yang hanya mencapai Rp 7,63 triliun. Mayoritas liabilitas perusahaan atau sebesar 98 persen merupakan utang jangka pendek.

    Presiden Direktur Bakrie Telecom, Jastiro Abi, mengatakan pemecatan pegawai sebagai strategi perusahaan agar operasional menjadi lebih efektif. “Tapi jumlahnya tidak seberapa, tidak sampai 800 karyawan. Setengahnya dari itu juga nggak sampai,” kata dia. Menurut Jastiro, pengurangan jumlah karyawan merupakan bagian dari langkah efisiensi perusahaan agar operasional lebih efektif.

    Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto, menambahkan, satu-satunya cara menyelamatkan BTEL dengan penyuntikan modal atau menjual BTEL. Meski BTEL memangkas jumlah karyawan dan berdasarkan persentase dinilai signifikan, tetap saja tidak akan membantu perusahaan untuk bertahan. "Opsi menjual juga sulit karena tidak ada satu investor pun yang mau masuk ke pasar telekomunikasi Indonesia yang sudah menjadi arena berdarah-darah," kata David.

    Esia yang menjadi produk utama BTEL diprediksi tidak akan sanggup bersaing sebab masih mengandallkan layanan pesan pendek (SMS) dan suara. Sementara itu, kemajuan teknologi membuat masyarakat lebih membutuhkan layanan data ketimbang suara atau pesan singkat. "Siapa sih memang yang masih betah SMS kalau ada fitur seperti wasap atau line yang lebih murah?" kata dia. Ia pesimistis ekuitas dan laba perusahaan akan terdongkrak tahun ini.

    DINI PRAMITA | BC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.