Anak Muda di Daerah Mulai Kuasai Pasar Online

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyiapkan barang pesanan pelanggan untuk dikirim di gudang situs belanja online mataharimall.com di Jakarta, 10 Desember 2015. Hari Belanja Online Nasional diikuti 140 E-commerce. TEMPO/Tony Hartawan

    Pekerja menyiapkan barang pesanan pelanggan untuk dikirim di gudang situs belanja online mataharimall.com di Jakarta, 10 Desember 2015. Hari Belanja Online Nasional diikuti 140 E-commerce. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Semarang - Kalangan muda di daerah mulai kuasai pasar online atau e-commerce yang mulai marak menjamur untuk memasarkan produk. Pemasaran melalui internet atau internet marketing menjadi tren bagi kalangan muda sejak awal tahun 2010 lalu.

    “Mereka berebut market untuk bisa menarik konsumen dari dalam dan luar negeri. Ini dibuktikan dengan menjamurnya industri pengiriman barang sebagai penopang bisnis kaum muda,” kata  Ketua Online Marketer Group (OMG) Pekalongan, Sakdullah Anwar, Rabu 23 Agustus 2017.

    Menurut dia, berjualan online yang awalnya dimulai sekitar tahun 2005 kini terbukti merambah di Pekalongan yang selama ini dikenal dengan kerajinan batik. “Yang dijual secara online tak hanya batik, meski mayoritas batik namun juga aksesoris lain. Seperti kancing dari bahan batok kelapa,” kata Sakdullah.

    Simak: Tiga Gelombang StartUp di Indonesia

    Maraknya penjualan secara online di Pekalongan itu juga dibuktikan aktivitas pengiriman di Pekalongan sejak pukul 08.00 hingga 20.00 WIB. Pengiriman itu dilakukan kaum muda lokal yang punya jejaring pasar dengan pemanfaatan tehknologi internet.

    Tercatat anggota Online Marketer Group (OMG) Pekalongan, mencapai 70 orang kaum muda. Sedangkan di luar itu banyak kaum muda tidak jadi anggota maupun yang sudah lebih awal memasarkan produk secara online secara otodidak.

    Ia mengaku berkembangknya penjualan secara online di daerahnya itu menimbulkan efek pertumbuhan ekonomi di Pekalongan lebih baik.  “Banyak kaum muda yang tak terjebak kerja formal, namun lebih memilih memasarkan dengan santai di rumah,” katanya.

    Kemudahan memasarkan itu juga dipengaruhi oleh  produksi kerajinan batik di pekalongan yang ada turun menurun. Munculnya teknologi internet itu memudahkan generasi sekarang tak harus menjual secara manual menemui pembeli.

    Sakdullah menilai internet marketing yang dilakukan kaum muda di daerah itu sesuai dengan hasil penelitian Google bekerja sama dengan Temasek yang menilai Indonesia bakal memegang peranan penguasaan sekitar 52 persen pasar e-commerce di Asia Tenggara, dengan nilai sebesar US$46 miliar pada tahun 2025.

    Peneliti Ekonomi, Universitas Kristen Satyana Wacana Salatiga, Eko Suseno Matrutty, menilai upaya memasarkan produk UMKM lewat online menjadi salah satu pendorong persaingan industri rumahan dalam persaingan global. Eko menyebutkan apa yang dilakukan anak muda itu bisa membantu saat masih banyak UMKM tak paham Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

    “Pelaku UMKM di Jateng banyak yang tak tahu apa itu MEA, terbukti jumlahnya mencapai 41 persen dari semua pelaku UMKM di Jateng,” kata Eko Suseno.

    Menurut Eko, peran pemerintah dan generasi muda pendampingin pelaku UMKM dinilai penting. Ia menyebutkan selain tak paham MEA mereka juga belum melek tekhnologi. “Buktinya pemasaran produk UMKM lewat online shop yang ada  justru didominasi anak-anak muda,” kata Eko mejelaskan.

    Anak-anak  muda kreatif hanya sebagai makelar tampilkan produk di pasar online seperti halaman media sosial, kemudian ada pemesan dan transaksi. 

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.