Imbauan Analis: Cermati Sentimen Negatif Rupiah Hari Ini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis PT Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, mengimbau pelaku pasar mencermati sentimen yang dapat berimbas kepada pelemahan lanjutan rupiah dalam perdagangan hari ini. Ia memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran support Rp 13.380 dan resisten Rp 13.306.

    Rupiah kemarin ditutup melemah 0,43 persen ke level Rp13.352 per dolar Amerika Serikat. Reza mengatakan harapan rupiah untuk menguat sirna karena pelaku pasar lebih memilih meningkatkan permintaan dolar Amerika. "Minimnya sentimen positif pada pasar uang turut membuat laju rupiah kembali melemah," katanya, seperti dilansir keterangan tertulis, Rabu, 10 Mei 2017.

    Baca: Total Net Buy Asing Capai Rp 679,09 Miliar

    Kondisi pasar uang global kemarin cenderung melemah pasca pemilihan umum Prancis, khususnya soft currency seperti rupiah. Reza mengatakan kondisi tersebut disebabkan aksi ambil untung dari pelaku pasar yang melihat pemilu sesuai dengan ekspektasi. Di sisi lain, pelaku pasar juga terlihat menahan diri karena menantikan arah kebijakan dari pemerintahan yang baru.

    Sedangkan sentimen dari dalam negeri masih cenderung negatif. Pelaku pasar tampak bersikap negatif setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama divonis bersalah karena menista agama.

    Baca: Susi Pudjiastuti Beberkan Modus Baru Pencurian Ikan oleh Asing

    Menurut Reza, kondisi tersebut lebih kepada sentimen sesaat yang kebetulan datang bersamaan dengan terapresiasinya laju dolar Amerika. "Namun secara tidak langsung berimbas pada kembali melemahnya laju rupiah." Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati sentimen yang dapat berimbas kepada pelemahan lanjutan rupiah.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.