Hari Kartini, OJK: Perempuan Harus Mandiri Finansial  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dian Sastro saat berperan sebagai Kartini dalam film Kartini. Twitter.com

    Dian Sastro saat berperan sebagai Kartini dalam film Kartini. Twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan Kusumaningtuti S. Soetiono mengatakan momentum Hari Kartini harus digunakan para perempuan untuk mewujudkan cita-cita menjadi perempuan mandiri.

    Salah satu kemandirian yang perlu dimiliki perempuan, kata Kusumaningtuti, adalah mandiri secara finansial. "Mandiri dalam melakukan penerimaan dan pengeluaran, bagaimana menata keuangan diri sendiri dan keluarga," katanya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat, 21 April 2017.

    Baca: Pilkada DKI, Ini Cara Kepala BKPM Meyakinkan Investor

    Kusumaningtuti berujar, agar mandiri dalam hal keuangan, perempuan harus memiliki literasi keuangan yang tinggi. Selama ini, menurut dia, literasi keuangan perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Berdasarkan data OJK, tingkat literasi perempuan per 2016 hanya 25 persen. Sedangkan laki-laki mencapai 33 persen.

    Untuk meningkatkan literasi keuangan para perempuan, menurut Kusumaningtuti, OJK telah membuat berbagai program. Program-program itu ditujukan agar perempuan, terutama ibu rumah tangga, bisa mengatur keuangan keluarga. "Kami memprioritaskan perempuan diberi edukasi supaya pandai melakukan perencanaan," tuturnya.

    Simak: Euro Menguat, Rupiah Diprediksi Melemah di Level Rp 12.300

    Kusumaningtuti menambahkan, terdapat pedoman yang bisa diterapkan perempuan untuk mengatur keuangan rumah tangga. Minimal 10 persen dari jumlah pendapatan harus disisihkan untuk investasi atau tabungan. "Kalau sampai memerlukan pinjaman, jangan melebihi 30 persen dari pendapatan," katanya.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.