Menjelang Puasa, Overspend Belanja Keluarga Melonjak 23 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jokowi menanyakan harga beras kepada pedagang di Pasar Pagi Rawamangun, Jakarta Timur, 28 Februari 2015.  Beberapa waktu lalu,  operasi pasar beras telah digelar. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Jokowi menanyakan harga beras kepada pedagang di Pasar Pagi Rawamangun, Jakarta Timur, 28 Februari 2015. Beberapa waktu lalu, operasi pasar beras telah digelar. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) merilis Indeks Bulanan Rumah Tangga (Bu RT). Menurut survei tersebut, pada Maret ini, satu keluarga yang beranggotakan empat orang harus mengeluarkan uang belanja lebih besar dibandingkan Februari. Peneliti CIPS di bidang perdagangan dan kesejahteraan rakyat, Hizkia Respatiadi, mengatakan nilai overspend rata-rata rumah tangga di Indonesia sebesar Rp 401 ribu per bulan pada Maret 2017. “Angka tersebut naik 23,16 persen dibandingkan Februari 2017,” ujarnya dalam hasil riset yang dipublikasi Senin, 10 April 2017.

    Overspend adalah belanja yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga di Indonesia yang nilainya lebih besar (lebih mahal) dibandingkan rumah tangga lain di sejumlah negara tetangga. Indeks Bu RT merupakan hasil survei terhadap harga eceran di sejumlah pasar swalayan di Jakarta dan membandingkannya dengan harga eceran pasar swalayan di sejumlah negara berpenghasilan menengah dan tinggi, yaitu Australia, Filipina, India, Malaysia, Selandia Baru, Singapura, dan Thailand.

    Baca : Proyek Listrik Molor, Sofjan Wanandi:Bisa Jadi Karena Tak Fisibel

    Menurut Hizkia, nilai overspend belanja rumah tangga di Indonesia sebesar Rp 83 ribu per orang per bulan pada Februari 2017 menjadi Rp 102 ribu per orang per bulan pada Maret 2017. Bahan pangan yang disurvei adalah 15 item kebutuhan pokok sebagaimana standar Badan Pusat Statistik yakni beras, daging sapi, daging ayam, telur, gula, tahu dan tempe, minyak goreng, garam, susu, buah apel, pisang, buncis, bawang merah dan bayam.

    "Kenaikan tersebut dikarenakan naiknya harga pangan menjelang Ramadan. Harga pangan dalam negeri telah meningkat menyambut datangnya bulan Ramadan dua bulan mendatang," ungkapnya.

    Harga pangan dalam negeri telah meningkat menyambut datangnya Ramadan pada dua bulan mendatang. Menurut Indeks Bu RT untuk bulan Maret, beras adalah bahan pangan yang paling mahal bagi masyarakat Indonesia.  Hizkia menyatakan satu keluarga harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp 233 ribu untuk kebutuhan beras satu keluarga, jika dibandingkan dengan harga beras di Thailand.

    Baca : Jelang Ramadan, Ini yang Dilakukan Menteri Amran Amankan Pangan

    Hizkia mengungkapkan melambungnya harga beras di Indonesia bertolak belakang dengan tren penurunan harga beras dunia. Berdasarkan data dari Harga Komoditas Bank Dunia, harga beras rata-rata mengalami penurunan 4,4 persen dari bulan Februari 2016 sampai Februari 2017. Akan tetapi, harga beras Indonesia tidak terpengaruh dengan jatuhnya harga beras global dan tetap stabil di angka 0,04 persen selama periode yang sama.

    “Kenaikan harga bahan pangan pokok dua bulan sebelum bulan puasa menunjukkan bahwa pemerintah harus segera memastikan ketersediaan pasokan yang cukup mengurangi harga,” katanya.

    Baca : Pimpin HKTI, Begini Rencana Moeldoko Percepat Produksi Pertanian

    Hizkia menambahkan dengan mengimpor bahan pangan utama seperti beras, daging sapi, kedelai, dan cabai untuk mengantisipasi Ramadan dan Idul Fitri akan membantu menurunkan harga. Terjangkaunya harga juga akan memungkinkan lebih banyak keluarga berpenghasilan rendah untuk berpartisipasi dalam perayaan tahunan tersebut. 

    “Dalam jangka pendek, Indonesia perlu mengimpor bahan pangan kunci untuk menjaga harga tetap rendah. Pemerintah juga perlu mengevaluasi kembali kebijakan perdagangan saat ini untuk mendukung harga pangan yang lebih murah,” ujarnya.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI | ABDUL MALIK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.