Korsel Siap Investasi Infrastruktur dan Listrik di Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong dan Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam peluncuran layanan perizinan 3 jam di sektor energi dan sumber daya mineral di Kantor BKPM, Jakarta, Senin, 30 Januri 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong dan Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam peluncuran layanan perizinan 3 jam di sektor energi dan sumber daya mineral di Kantor BKPM, Jakarta, Senin, 30 Januri 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan para pengusaha Korea Selatan akan berinvestasi di berbagai sektor Indonesia. Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengatakan setidaknya ada beberapa proyek yang akan disepakati pada pekan ini.

    “Ekspektasi saya minggu ini di sektor infrastruktur dan listrik ada beberapa proyek yang akan diteken. Kira-kira nilainya US$200 juta (setara Rp2,6 triliun),” ujar Thomas di sela-sela acara Indonesia-Korea Bussiness Summit yang diselenggarakan di hotel  Shangri La, Jakarta Pusat, Selasa, 14 Maret 2017.

    Menurut Thomas, sejauh ini sudah banyak pabrik asal Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia, seperti pabrik tekstil dan sepatu. Tak hanya itu, dengan beroperasinya pabrik tersebut, hal itu memberi dampak pada penyerapan tenaga kerja, yang saat ini sudah mencapai lebih dari 500.000 orang.

    “Banyak pengusaha sepatu Korea yang punya pabrik di Cina terus bikin lagi di sini. Jadi prosesnya jalan terus,” kata Thomas. Saat ini Korea Selatan merupakan negara investor terbesar nomor tiga di Indonesia.

    Thomas membenarkan jika selama ini investasi perusahaan Korea di Indonesia masih didominasi industri manufaktur. Sebanyak 71 persen dari total investasi selama lima tahun terakhir periode 2012 sampai 2016 berada di sektor manufaktur.

    Sementara itu, dalam acara Indonesia Korea Bussiness Summit, BKPM bersama Korea Trade Investment Agency (KOTRA) menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai bentuk promosi investasi.

    “Diharapkan ini dapat membantu perusahaan-perusahaan Korea Selatan (Korsel) maupun Indonesia dalam mengembangkan usahanya,”ujar Thomas.

    Thomas menambahkan, investasi merupakan hubungan resiprokal seperti perdagangan.
    Dengan begitu, masing-masing harus terlibat dalam mengembangkan investasi di kedua negara. “Bukan hanya mereka (investor Korsel) investasi ke sini, kita juga investasi ke sana, tapi saat ini masih banyak memang dari mereka ke kita,” ujarnya.

    Promosi investasi utamanya membidik beberapa sektor unggulan Indonesia dan Korea Selatan. Hal itu meliputi pertukaran informasi, dokumentasi, publikasi, dan lainnya.

    Sebagai informasi, negeri K-pop itu merupakan investor terbesar ketiga yang masuk ke Indonesia setelah Singapura dan Jepang. Bahkan, investasi dari perusahaan Korea Selatan ke Indonesia mencapai US$7,5 miliar untuk 7.607 proyek selama 2012-2016.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.