Kepala Bappenas Temui Luhut Bahas Kajian Reklamasi Teluk Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bambang Brodjonegoro. antaranews.com

    Bambang Brodjonegoro. antaranews.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro menemui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan hari ini. Keduanya akan membahas hasil kajian reklamasi Teluk Jakarta.

    Bappenas telah menyelesaikan hasil kajian reklamasi laut di sebelah utara Jakarta tersebut pekan lalu. Dalam pertemuan hari ini, Bappenas akan memaparkan hasil kajian itu kepada Luhut. "Intinya, Jakarta butuh tanggul pantai sesegera mungkin supaya banjir rob berkurang," ujar Menteri Bambang saat ditemui sebelum rapat, Rabu, 8 Maret 2017.

    Pekan lalu, Deputi Bidang Pengembangan Regional Bappenas Arifin Rudiyanto menyatakan hasil kajian reklamasi Teluk Jakarta telah disampaikan kepada Luhut. Kajian tersebut berisi rekomendasi teknis, mulai dari regulasi kelembagaan, kerangka investasi, aspek lingkungan, hingga perencanaan tata ruang dan wilayah.

    Namun, menurut Arifin, hasil kajian tersebut baru akan dipublikasikan saat Gubernur DKI Jakarta yang baru sudah terpilih. Awalnya, hasil kajian itu akan diumumkan pada pertengahan Februari lalu. Namun, karena pemilihan Gubernur DKI Jakarta memasuki putaran kedua, rekomendasi berdasarkan kajian itu tak jadi diungkapkan kepada publik.

    Rekomendasi teknis tersebut, menurut Arifin, belum menentukan jenis pembangunan Teluk Jakarta dan detail kelanjutan proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) alias tanggul raksasa tahap A. Hal ini mengingat kajian Bappenas dalam jangka panjang adalah pencegahan banjir dan penyediaan air bersih untuk Jakarta.

    Selama ini, proyek tersebut diprotes oleu nelayan. Melalui Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia menggugat pemerintah DKI Jakarta berkaitan dengan pemberian izin reklamasi Pulau F, I, dan K. Proses reklamasi diduga menyebabkan hasil tangkapan nelayan menurun karena area perairan hilang.

    Pada 23 Februari lalu, Luhut mengatakan kajian mengenai reklamasi Teluk Jakarta sudah lama dilakukan oleh Port of Rotterdam, perusahaan asal Belanda. Dalam studi itu, bila reklamasi tak dilakukan, permukaan tanah bisa turun hingga 7,5 sentimeter per tahun. "Di beberapa tempat malah 17 sentimeter," kata Luhut.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.