Meski Dolar Tiinggi Harga Minyak Tetap Melambung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Sue Ogrocki

    AP/Sue Ogrocki

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga minyak mentah tetap memanas seiring dengan perbaikan faktor fundamental meskipun dolar AS naik tinggi.

    Pada perdagangan Kamis (15/12) pukul 17:18 WIB harga minyak WTI kontrak Januari 2017 berada di posisi US$51,25 per barel, naik 0,21 poin atau 0,41%. Sementara minyak Brent kontrak Februari 2017 bertengger di US$54,4 per barel, meningkat 0,52 poin atau 0,96%.

    Dalam rapat OPEC di Wina, Austria, pada 30 November, organisasi memutuskan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari menjadi 32,5 juta barel per hari mulai awal 2017. Selanjutnya pada 10 Desember, anggota OPEC dan negara produsen minyak non anggota mencapai kesepakatan menahan suplai untuk pertama kalinya sejak 2001.

    Para produsen non OPEC sepakat memangkas suplai baru hingga 558.000 barel per hari. Sebelumnya, OPEC menginginkan agar negara non anggota bisa memotong hingga 600.000 barel per hari.

    Namun, keputusan Federal Reserve mengerek suku bunga 25 basis poin membuat dolar AS melesat. Alhasil sentimen ini membuat proyeksi permintaan komoditas berdenominasi dolar AS melesu.

    Hari ini pada pukul 17:20 WIB, indeks dolar AS meningkat 0,76% atau 0,77 poin menuju 102,53. Ini menandakan angka sudah tumbuh 3,95% sepanjang tahun berjalan.

    Michael McCarthy, chief market strategist CMC Markets, mengatakan menguatnya dolar AS menjadi katalis jangka pendek agar investor melakukan aksi jual terhadap minyak. Padahal, sentimen bullish masih menopang fundamental.

    Data US Energy Information Administration (EIA) yang dirilis Rabu (14 Desember 2016) menunjukkan stok minyak mentah AS per Jumat (9 Desember 2016) turun 2,56 juta barel menuju 483,19 juta barel. Sementara tingkat produksi naik sebesar 9.900 barel per hari menjadi 8,79 juta barel per hari.

    "Ada reaksi awal untuk bullish setelah rilis data EIA, tetapi menguatnya dolar AS berpotensi mengubah itu," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (15 Desember 2016).

    Perusahaan investasi Natixis dalam laporannya memaparkan, dalam jangka panjang faktor fundamental suplai dan permintaan akan menjadi tolak ukur utama harga minyak mentah. Rencana pengurangan produksi antara OPEC dan non organisasi bakal memegang peranan penting.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.