2 Tahun Jokowi-JK, Indef: Inflasi dan Daya Beli Rendah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang merapikan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Salah satu penyumbang inflasi adalah bawang merah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pedagang merapikan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Salah satu penyumbang inflasi adalah bawang merah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, menilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen belum cukup untuk ukuran ekonomi Indonesia. Inflasi yang berada di kisaran angka 3 persen, kata dia, seharusnya menaikan daya beli masyarakat.

    Namun, dalam pengamatannya, Enny mengatakan inflasi sebesar 3 persen tersebut diikuti dengan konsumsi rumah tangga sebesar 4 persen. "Artinya justru inflasi rendah karena habisnya daya beli masyarakat. Jadi masyarakat tidak bisa berdaya beli lagi," kata Enny dalam diskusi 'Kerja, Cinta, dan Drama' di Jakarta, Sabtu 22 Oktober 2016.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, sebelumnya mengatakan deflasi yang dipicu penurunan harga kebutuhan bahan makanan sangat bagus untuk masyarakat. Namun di satu sisi, deflasi juga menunjukkan adanya permasalahan. "Tapi itu memang menjadi petunjuk bahwa ekonomi itu permintaan secara makro masih lemah," ujarnya awal November tahun lalu.

    Lebih jauh, Enny mengapresiasi orientasi pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di beberapa daerah. Beberapa dibangun seperti bendungan, jalan tol, dan pelabuhan. "Namun, ekonomi butuh keseimbangan. Karena ambisi pemerintah membangun infrastruktur dengan dana yang terbatas," ujar Enny.

    Sehingga, kata Enny, pemerintah pun harus mengeluarkan surat utang. "Sementara pasar keuangan kita cetek banget karena yang punya uang hanya segelintir elit," ujar dia. Menurut dia, surat utang ini menyebabkan likuiditas perbankan menurun dan terjadi perang suku bunga di sektor perbankan.

    Menurut Enny, apabila target pertumbuhan investasi sebesar 5 persen, maka suku bunga harus double digit. Sebab, hal ini berpengaruh pada penyediaan lapangan pekerjaan dan daya beli masyarakat. "Makanya daya beli rendah. Sebenarnya siapa yang menyebabkan daya beli yang turun? Ini karena target ambisius," kata dia.

    Meskipun begitu, Enny mengapresiasi kerja pemerintah dengan hasil pertumbuhan ekonomi nomor tiga di dunia. "Negara Eropa, Amerika Serikat, Jepang, masih minus. Tapi masalahnya 5 persen tidak cukup untuk size ekonomi kita.”

    ARKHELAUS W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.