Suku Bunga Acuan Turun, Saham Perbankan Kompak Menguat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang nasabah bertransaksi menggunakan mesin ATM di Jakarta, (15/3). Lembaga Penjamin Simapanan (LPS), bisa tidak menjamin simpanan pada bank yang masih menetapkan bunga lebih tinggi daripada suku bunga wajar yang ditetapkan LPS. TEMPO/Panca Syurka

    Seorang nasabah bertransaksi menggunakan mesin ATM di Jakarta, (15/3). Lembaga Penjamin Simapanan (LPS), bisa tidak menjamin simpanan pada bank yang masih menetapkan bunga lebih tinggi daripada suku bunga wajar yang ditetapkan LPS. TEMPO/Panca Syurka

    TEMPO.COJakarta - Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk kembali membuat kebijakan menurunkan suku bunga acuan 7 Days Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) dari 5 persen menjadi 4,75 persen memberikan sentimen positif bagi pergerakan saham perbankan berkapitalisasi besar.

    Berdasarkan pantauan di RTI Bussiness, saham-saham perbankan, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), kompak menguat pada awal pembukaan perdagangan di Bursa Efek.

    Saham BCA memimpin penguatan sebesar 0,63 persen atau 100 poin pada level harga Rp 15.850 per saham. Disusul saham BNI yang menguat 0,46 persen atau 25 poin ke level Rp 5.475.

    Peringkat ketiga diduduki saham Bank Mandiri yang menguat 0,44 persen atau 50 poin ke level harga Rp 11.350 per lembar saham. Juga saham BRI yang menguat 0,21 persen atau 25 poin ke level harga Rp 12.150 per lembar saham.

    Menurut analis ekonomi dari First Asia Capital, David Sutyanto, pasar memberikan respons positif atas langkah Bank Indonesia (BI) yang kembali melonggarkan kebijakan moneternya. "Keputusan BI dalam menurunkan tingkat bunga acuannya atau BI 7-Days Reverse Repo Rate 25 basis poin menjadi 4,75 persen berdampak positif bagi saham-saham sektoral yang sensitif terhadap suku bunga atau interest rate," ucap David Sutyanto dalam pesan tertulis, Jumat, 21 Oktober 2016.

    Kemarin, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara mengatakan pelonggaran kebijakan moneter diyakini semakin memperkuat permintaan domestik, termasuk permintaan kredit. Selain itu, pelonggaran kebijakan moneter ini sejalan dengan terjaganya stabilitas makroekonomi, khususnya inflasi, yang diperkirakan berada di batas bawah sasaran 4 plus-minus 1 persen.

    Dengan adanya kebijakan pemangkasan suku bunga acuan ini, BI berharap dapat direspons dengan baik oleh pasar. BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan berada pada kisaran batas bawah dari 4,9-5,3 persen.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?