Rendemen Tebu Terus Menurun Sejak Agustus 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengoperasikan mesin traktor untuk menarik lori tebu di Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar, 27 Juni 2016. Pabrik ini ditargetkan mampu memproses 3,5 juta kuintal tebu pada tahun ini. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Petugas mengoperasikan mesin traktor untuk menarik lori tebu di Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar, 27 Juni 2016. Pabrik ini ditargetkan mampu memproses 3,5 juta kuintal tebu pada tahun ini. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Jakarta - Rendemen tebu petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur terus menurun dari 6,5 persen menjadi 5,8 persen akibat hujan yang mengguyur di kabupaten setempat sejak Agustus hingga Sepetember 2016.

    "Saat ini rendemen tebu terus turun yakni berkisar 5,7% hingga 5,8%  akibat hujan yang terus mengguyur Jember, bahkan beberapa hari terakhir hujan cukup deras juga turun di beberapa kecamatan di Jember," kata Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Kabupaten Jember Yeyek Sugiarto di Jember, Rabu (28 September 2016).

    Selain rendemen tebu yang rendah, lanjut dia, biaya tebang dan angkut tebu juga bertambah tinggi saat musim hujan, sehingga hal tersebut juga berdampak pada pendapatan petani tebu yang menurun.

    "Biaya angkut tebu di masing-masing kecamatan juga berbeda, seperti biaya angkut di Kecamatan Tanggul dengan jarak 0-10 kilometer sebesar Rp3.500 per kuintal, sedangkan di Kecamatan Sumberbaru jarak 10-20 km sekitar Rp4.500 per kuintal. Padahal produksi tebu di setiap 1 hektare lahan berkisar 800 kuintal hingga 1 ton," paparnya.

    Ia mengatakan petani tidak mengalami kerugian akibat rendemen rendah, namun keuntungannya yang berkurang karena masih tertolong harga lelang yang tinggi di tingkat petani yang mencapai Rp11.650 per kilogram di Pabrik Gula Semboro," katanya.

    Harga itu lebih tinggi dibandingkan HPP (Harga Patokan Pemerintah) tahun ini sebesar Rp9.100 per kilogram, namun pasokan gula yang cukup melimpah menyebabkan harga lelang juga terus turun.

    "Kami berharap harga lelang untuk musim giling tahun ini tetap stabil minimal Rp11.000 per kilogram karena rendemen masih sangat rendah bahkan cenderung menurun akibat hujan deras," ujarnya.

    Sementara Ketua Paguyuban Petani Tebu Rakyat (PPTR) Muhammad Ali Fikri mengatakan rendemen tebu pada 26 September 2016 berkisar 6,29 hingga 6,30 persen, sehingga kesimpulannya rendemen petani di wilayah Pabrik Gula Semboro rata-rata 6,3 persen.

    "Kisarannya turun 0,6 persen hingga 1 persen kalau secara agregat musim giling, namun sesuai data tercatat juga rendemen tebu sebagian petani di Jember terendah 5,8 persen," imbuhnya.

    Ia mengatakan faktor utama penurunan rendemen tebu milik petani karena faktor hujan yang terjadi sejak awal musim giling pada Agustus 2016 hingga sekarang.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.