Harga Batu Bara Meroket

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jackie Ratliff, menunjukan batu bara yang dihasilkannya di tambang batu bara Welch, 6 Oktober 2015. AP/David Goldman

    Jackie Ratliff, menunjukan batu bara yang dihasilkannya di tambang batu bara Welch, 6 Oktober 2015. AP/David Goldman

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga batu bara meroket ke level tertinggi dalam 17 bulan terakhir seiring dengan langkah Cina sebagai produsen terbesar di dunia mengubah strategi menjadi importir. Meskipun demikian, harga masih rentan koreksi akibat proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada kuartal IV 2016.

    Pada penutupan perdagangan Jumat, 29 Juli 2016, harga batu bara kontrak September 2016 di bursa Rotterdam naik 0,25 poin atau 0,4 persen menuju US$ 62,65 per ton. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Maret 2015 dan membuat kenaikan harga sepanjang tahun berjalan mencapai 45,02 persen.

    Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, menuturkan kenaikan pesat batu bara dimulai pada pertengahan Juli 2016 setelah pemerintah Cina memangkas 800 ribu pekerja di sektor batu bara dan baja. Reformasi produsen terbesar di dunia ini mem be rikan pengaruh kuat terhadap harga.

    Data Administrasi Umum di Beijing melaporkan, Negeri Panda meningkatkan impor Juni sebesar 21,75 juta ton atau level tertinggi sejak Desember 2014. Angka tersebut membuat pengiriman ke dalam negeri di semester I 2016 menjadi 108 juta ton atau bertumbuh 8,2 persen (yoy), dibandingkan semester I 2015 yang terkoreksi 38 persen.

    "Harga batu bara yang rendah membuat Cina mengubah strategi dari pro dusen menjadi importir. Alasan nya, biaya eksplorasi masih ter la lutinggi dibandingkan harga jual," ujar Ibrahim saat dihubungi Bisnis, Senin, 1 Agustus 2016.

    Menurut Ibrahim, membaiknya faktor fundamental berhasil membuat harga batu bara keluar dari bayang-bayang sentimen minyak mentah yang kini mengalami tren bearish akibat suplai berlebih.

    Pada perdagangan Senin, 1 Agustus 2016 pukul 13:18 WIB, harga minyak WTI kontrak September 2016 naik 0,21 poin atau 0,5 persen menuju US$ 41,78 per barel. Padahal pada awal Juli, harga bertengger di posisi US$ 49,65 per barel.

    Selain Cina, negara produsen seperti Australia, Indonesia, dan Kolombia juga mengurangi produksi. Berdasarkan data Bank Dunia, ketiga negara pada 2015 masing-masing menempati posisi IV, V, dan VIII dalam daftar pemasok batu hitam terbesar di dunia.

    Di Tanah Air, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berencana memberlakukan moratorium izin penambangan baru industri batu bara. Menurut Ibrahim, langkah ini merupakan hal yang wajar karena harga komoditas itu masih terlampau murah.

    Dalam pembangunan smelter, pihak swasta pun masih sangat berhati-hati. Meskipun harga sedang mengalami kenaikan, trennya terbilang bakal terbatas.

    Di sisi lain, pemerintah fokus dalam pembangunan PLTU di setiap provinsi untuk mengejar target kapasitas listrik 35 ribu MW. Alhasil, walaupun ekspor berkurang, tetapi penyerapan di dalam negeri meningkat.

    Dalam waktu dekat, harga batu bara diprediksi menurun ke level US$ 61 per ton. Sentimen negatif berasal dari rilis indeks PMI Manufaktur Cina pada Juli merosot ke level 49,9, jatuh di bawah ekspektasi 50,1.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.