8 Gerai UKM Indonesia di Bangkok Diserbu Pembeli  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kalung mutiara yang dijual di pameran Indonesian Pearl Festival di Grand Indonesia, Jakarta, 14 Oktober 2015. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    Kalung mutiara yang dijual di pameran Indonesian Pearl Festival di Grand Indonesia, Jakarta, 14 Oktober 2015. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    TEMPO.COBangkok - Sebanyak delapan usaha kecil dan menengah (UKM) asal Indonesia sukses menggaet pembeli internasional dalam ajang Bangkok International Gift Fair + Bangkok International Houseware Fair (BIG+BIH) 2016. Pameran tersebut digelar di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC) di Bang Na, Thailand, pada 19-23 April 2016.

    Atase Perdagangan Indonesia untuk Thailand Rita Tri Mutiawati menyatakan gerai asal Indonesia dipadati pengunjung selama pameran. Banyak pengunjung yang meminati produk dari batu dan tas kulit asal Indonesia. 

    “Kualitas produk kita memenuhi standar internasional. Dari pameran ini diperkirakan masih banyak transaksi yang akan terjadi,” kata Rita dalam keterangan pers, Minggu, 24 April 2016.

    Delapan UKM asal Indonesia, menurut Rita, membawa berbagai produk yang cukup beragam. Contohnya, To~Ko Concept Store asal Bali yang membawa produk home decor jam, tempat tisu, serta pajangan modern dari kayu dan bambu. Indorisakti, UKM asal Yogyakarta, mengusung pajangan dari recycled magazine, pigura, dan tempat tisu. Adapun Interlink Stone asal Malang memamerkan produk home decor yang terbuat dari batu alami.

    Rita menjelaskan, terdapat dua pengusaha dari Bali, Ketut Putra Golf & Silver Smith asal Gianyar, yang memamerkan perhiasan dari kerang, perak, mutiara, dan gemstone. Naputo Bali asal Sukowati juga turut memamerkan produk tas dan dompet dari kulit ular piton. 

    Dari Jakarta, menurut Rita, pengusaha Lolitattoo mengusung produk jasa temporary tattoo dan nail art. Adapun Spectacular Indonesia, asal Surabaya, membawa tas, batik, dan sandal kulit. “Begitu pula pengusaha Batik Kemayu asal Yogyakarta,” ujarnya.

    Rita menyebutkan ada sekitar 1.600 gerai di area seluas 40 ribu meter persegi itu. Pesertanya berasal dari 600 perusahaan lokal Thailand dan dunia, seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Ghana, Cina, serta beberapa negara Eropa dan ASEAN. Diperkirakan jumlah pengunjung mencapai 50 ribu orang dengan nilai transaksi langsung hingga US$ 675 ribu.

    ARKHELAUS W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.