Pekanbaru Siapkan Dana Cadangan Bencana Asap

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lanskap gedung-gedung perkantoran dan permukiman penduduk di kawasan Jakarta Pusat, 27 Oktober 2015. Kepala Pusat Data Informasi BNPB menyatakan bencana asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan makin meluas dan sebagian menuju Jakarta. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Lanskap gedung-gedung perkantoran dan permukiman penduduk di kawasan Jakarta Pusat, 27 Oktober 2015. Kepala Pusat Data Informasi BNPB menyatakan bencana asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan makin meluas dan sebagian menuju Jakarta. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Pekanbaru telah menyiapkan dana cadangan tanggap bencana alam sebesar Rp1 miliar untuk tahun 2016.

    "Jumlah dana cadangan ini sama dengan tahun lalu sebesar Rp1 miliar," kata Wali Kota Pekanbaru, Firdaus dalam keterangan persnya Selasa (15 Maret 2016).
       
    Wako menjelaskan cadangan tersebut sengaja dianggarkan untuk berjaga-jaga mengatasi berbagai bencana yang akan menimpa dalam kurun satu tahun anggaran. "Jadi dana ini akan digunakan bagi biaya penanggulangan kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan seperti tahun lalu," katanya.
      
    Selain itu juga bantuan bagi bencana lainnya seperti banjir atau hal yang dinilai membutuhkan penanggulangan massal.
      
    Meski sebut Wako, khusus untuk penanggulangan Karlahut juga sudah ada anggaran di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang terkait dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam kebakaran (BPBD Damkar).
      
    "Dana operasional dan peralatan Karlahut ada di SKPD teknis," katanya.
     
    Namun jika terjadi hal di luar dugaan dan jangkauan akan ada koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat. Untuk mendapatkan dana bantuan bagi penanggulangan yang lebih besar.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?