Kelas Menengah Jadi Konsumen Terbesar Properti Yogyakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perumahan Citra Elegance Jogja di Plumbon, kecamatan Banguntapan, kabupaten Bantul Yogyakarta, Jumat (11/4). TEMPO/Suryo Wibowo

    Perumahan Citra Elegance Jogja di Plumbon, kecamatan Banguntapan, kabupaten Bantul Yogyakarta, Jumat (11/4). TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Kalangan menengah merupakan pembeli rumah atau properti yang paling banyak di Yogyakarta. "Sebanyak 75 persen penjualan properti menyasar kelas menengah," kata Wakil Ketua Real Estate Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Ilham Muhammad Nur pada Jumat, 4 Maret 2016.

    Ilham menjelaskan, harga rumah kelas menengah sebesar Rp 300-700 juta. Pada 2016, ujar dia, pertumbuhan penjualan rumah kelas menengah mencapai 20 persen.

    Mereka rata-rata merupakan pekerja swasta atau keluarga muda yang tinggal di Yogya setelah lulus kuliah di daerah ini. Penghasilan mereka per bulan rata-rata Rp 5 juta.

    Rumah kelas menengah membuat bisnis properti cerah. Ilham menuturkan bisnis properti sempat lesu pada 2015 akibat kondisi keuangan global.

    Tahun lalu, pengusaha properti kesulitan menjual properti. Data REI menunjukkan terjadi penurunan penjualan rumah hingga 50 persen. Pada 2015, total rumah yang terjual oleh pengusaha properti yang berhimpun di REI sebanyak 1.600 unit. REI saat ini punya 125 anggota.

    Menurut Ilham, bisnis properti sekarang tumbuh di Kabupaten Sleman dan Bantul. Di Kota Yogyakarta, harga properti kian melambung. Harga rumah kelas menengah di Kota Yogyakarta berkisar Rp 750 juta.

    Hasil pantauan Tempo menunjukkan rumah kelas menengah banyak berdiri di Kabupaten Bantul. Di Desa Tamantirto dan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, misalnya, padat oleh rumah-rumah kelas menengah ke atas. Contohnya rumah di Pondok Permai Taman Tirta 2 Residence.

    Harga rumah di situ sebesar Rp 600-900 juta dengan fasilitas kolam renang. Hanya berjarak 300 meter dari kawasan itu, terdapat Padma Residence, rumah kelas menengah yang padat hunian.

    Kepala Badan Pusat Statistik DIY Bambang Kristanto mengakui adanya pertumbuhan kelas menengah di Yogyakarta. Ukurannya antara lain banyaknya apartemen dan hunian yang banyak diakses lapisan ini.

    Namun tumbuhnya kelas menengah itu tidak diimbangi dengan pemerataan kesejahteraan. Data BPS menunjukkan ada ketimpangan sosial. "Lahan pertanian semakin tergeser oleh kepentingan bisnis dan hunian. Petani jadi kelompok yang terpinggir," tutur Bambang.

    Garis kemiskinan di DIY pada September 2015 sebesar Rp 347.721 per kapita per bulan. Sedangkan pada Maret 2015, Rp 335.886 per kapita per bulan. Ini menunjukkan ada kenaikan 3,52 persen. Bila dibanding September 2014, terjadi kenaikan garis kemiskinan 8,31 persen.

    SHINTA MAHARANI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.