Gerhana Matahari, Pemesanan Hotel di Palembang Meningkat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan. Dok TEMPO/Santirta M

    Jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan. Dok TEMPO/Santirta M

    TEMPO.CO, Palembang - Gerhana matahari total yang melintasi Palembang, Sumatera Selatan, turut memberi keuntungan bagi para pemilik hotel di kota tersebut. Sebagian besar kamar dari sekitar 144 hotel di Palembang sudah dipesan wisatawan, baik lokal maupun mancangera.

    Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Selatan Herlan Aspiudin mengatakan pemesanan kamar hotel menjelang gerhana matahari total meningkat hingga 50 persen dari hari biasa. "Pada kondisi normal, pemesanan hanya 30 persen dari kamar tersedia," kata Herlan, Jumat, 4 Maret 2016. Ia yakin pemesanan akan terus meningkat hingga beberapa hari ke depan.

    Herlan menuturkan pengelola hotel di Palembang sudah terbiasa menghadapi gelaran besar dan berskala internasional. "Di Palembang saja kami siapkan 8.500 kamar hotel bagi turis yang akan menyaksikan GMT," ujarnya.

    Dia optimistis para pengelola hotel tetap mengedepankan profesionalitas. Namun demikian, kata Herlan, PHRI dan pemerintah tetap melakukan pemantauan terhadap setiap pelayanan hotel di daerah itu.

    Tak hanya menyediakan kamar, menurut Herlan, hotel-hotel di Palembang juga diperkenankan  membuat acara bertemakan gerhana matahari total. Hotel Aryaduta misalnya, mengajak pengunjung menikmati hilangnya sinar matahari dari lantai atas hotel.

    Kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan Irene Camelyn Sinaga mengatakan sebagian wisatawan yang datang ke Palembang membawa sejumlah peralatan untuk mengamati gerhana matahari total. "Yang menarik di sini karena pengamatan berlangsung di tengah Ampera yang kami tutup sementara," ujar Irene.

    PARLIZA HENDRAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.