Surat Terbuka Soal Komisaris BUMN, Ini Kata Relawan Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Rini Soemarno memberi salam kepada wartawan seusai memberikan keterangan terkait masalah Pertamina dengan PLN di Kementerian BUMN, Jakarta, 7 Januari 2016. ANTARA FOTO

    Menteri BUMN Rini Soemarno memberi salam kepada wartawan seusai memberikan keterangan terkait masalah Pertamina dengan PLN di Kementerian BUMN, Jakarta, 7 Januari 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Barisan Relawan Jokowi Presiden, Syafti Hidayat, mengaku tidak pernah menyebut nama seseorang dalam surat terbuka yang ia tujukan kepada Presiden Joko Widodo dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno terkait pengangkatan komisaris BUMN.

    “Tidak pernah saya sebut nama itu. Surat terbuka itu untuk semua, semacam early warning saja,” kata Syafti kepada Tempo, Selasa, 1 Maret 2016.

    Surat  yang diunggah di jejaring sosial Facebook itu menolak bekas narapidana kasus korupsi diangkat menjadi komisaris di Pelindo, tanpa menyebutkan Pelindo I, II, III, atau IV. Menurut dia, tidak mungkin membersihkan lantai dengan sapu kotor.

    Walau tak menyebutkan nama, serangan Syafti mengarah ke pendiri sekaligus Ketua Umum BaraJP, Sihol P. Manulang. Syafti juga tak membantah ketika ditanya apakah figur yang dimaksudkan adalah Sihol Manulang.

    Syafti enggan menjelaskan alasan ia membuat surat pernyataan itu. Terkait informasi nama Sihol P. Manulang, Syafti juga enggan menyebut sumbernya. “Saya akan jelaskan kalau diminta oleh orang yang saya tuju dalam surat,” kata dia.

    Ia mengaku membuat surat pernyataan itu sebagai pencegahan dan membangun BUMN agar tidak salah pilih orang. “Jadi kalau ada yang mau masuk ya diperiksa benar-benar. Kalau tidak, nanti jadi serangan balik buat Pak Jokowi di pemilihan presiden yang akan datang,” katanya.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.