Menteri Saleh: Maksimalkan Potensi Industri Olahan Gambir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Saleh Husin saat mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat,26 November 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Perindustrian Saleh Husin saat mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat,26 November 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Kementerian Perindustrian mendorong industri pengolahan gambir untuk meningkatkan nilai tambah, serta menumbuhkan industri antara dan hilir. Pengembangan industri berbahan baku natural seperti itu diharapkan mendongkrak pendapatan petani gambir.

    "Gambir punya potensi diolah lebih lanjut dan memasok ke banyak industri, seperti kosmetik, farmasi, tekstil, cat, tinta, dan penyamakan kulit. Tentu nilai tambahnya meningkat dibanding hanya dijual dalam bentuk mentah seperti selama ini," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam siaran pers yang diterima Tempo, Senin, 22 Februari 2016. 

    Pada hari ini pula, di gedung Kementerian Perindustrian, Saleh menerima kunjungan tokoh masyarakat Sumatera Barat, Andrianov Akhir Chaniago. Saleh memuji Sumatera Barat sebagai sentra produksi gambir di Indonesia dan memasok komoditas ini ke pasar dunia. Produksi gambir dari provinsi ini menembus 17 ribu ton per tahunnya.

    Banyaknya potensi buah gambir dapat dilihat dari banyaknya produk yang bisa dibuat darinya. Kementerian Perindustrian, melalui Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand) Padang, Sumatera Barat, juga mengembangkan buah gambir untuk dijadikan tinta pemilu, tinta stempel, pewarna tekstil, penyamakan kulit, dan antioksidan alami.

    Keunggulan stempel dan tinta dari gambir ini tahan rembes ketika digunakan pada media kertas. Produk ini telah dipakai di lingkungan Pemda Kabupaten Lima Puluh Kota. Demi meningkatkan pengolahan yang lebih maju, Kementerian Perindustrian berencana memfasilitasi pertemuan pemangku kepentingan pengolahan gambir, seperti pengusaha, asosiasi industri, perusahaan farmasi, kosmetik, hingga petani, dan pemerintah daerah.

    Andrinov mengatakan pengembangan gambir diarahkan memperluas ragam produksi serta menumbuhkan industri antara dan hilir. "Kita selama ini mengekspor gambir mentah ke Singapura, lalu oleh trader dibawa ke India untuk diolah menjadi bahan setengah jadi. Selanjutnya dikirim ke Eropa, memasok industri kosmetik, farmasi, dan lain-lain," katanya.

    Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas ini menuturkan harga gambir di tingkat petani sebesar Rp 20 ribu per kilogram, sedangkan industri kosmetik mengimpor gambir yang telah diolah oleh pabrikan luar negeri dengan harga Rp 1 juta per 1 miligram.

    EGI ADYATAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!