Bali Gelar Coworking Unconference Asia pada 24-26 Februari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memanggang adonan bakpia phatok di pabrik pembuatan Bakpia Phatok 25 di Yogyakarta, 14 Februari 2016. Bank Indonesia (BI) menyambut baik dukungan pemerintah kepada industri perbankan dalam memberikan kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program subsidi kredit usaha rakyat (KUR). TEMPO/Subekti

    Pekerja memanggang adonan bakpia phatok di pabrik pembuatan Bakpia Phatok 25 di Yogyakarta, 14 Februari 2016. Bank Indonesia (BI) menyambut baik dukungan pemerintah kepada industri perbankan dalam memberikan kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program subsidi kredit usaha rakyat (KUR). TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Coworking Unconference Asia 2016 akan digelar di Bali pada 24 Februari 2016 hingga 28 Februari 2016 mendatang yang dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari kalangan pelaku usaha dan media massa.

    Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Ubud Coworking & Community Space atau dikenal dengan Hubud dan Kumpul Coworking Space yang bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

    Risyana Muthia, Communication Manager Hubud, mengungkapkan pergerakan coworking sendiri sudah cukup lama dikenal di Benua Eropa dan Amerika Utara, sedangkan di Indonesia sendiri baru populer beberapa tahun lalu dan di Bali saat ini sudah ada 10 coworking space.

    “Kegiatan yang digelar kedua kalinya ini untuk membahas lebih dalam lagi pergerakan coworking di Indonesia bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia, serta bagaimana kaitannya dengan implementasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),” tuturnya dalam konferensi pers Coworking Unconference Asia 2016 di Denpasar, Kamis (18 Februari 2016).

    Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, Direktur Kerjasama Ekonomi Asean Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, mengatakan dalam penerapannya di Indonesia, MEA sering diartikan sebagai suatu ancaman dengan adanya pergerakan bebas tenaga kerja, barang, dan modal sehingga akan meraup pasar di Indonesia.

    “Padahal sebagai pasar tunggal, pelaku usaha Indonesia juga mampu meraup peluang yang sama di negara-negara Asean lainnya. MEA dianggap sebagai ancaman atau peluang tergantung pada kemampuan masing-masing individu untuk berdaya saing,” jelasnya.

    Dia menuturkan, coworking adalah cara kerja baru yang mengandalkan keterhubungan, kolaborasi, dan saling berbagi sumber daya.

    “Melalui coworking, individu dan UMKM akan lebih terdorong untuk berjejaring serta menciptakan inovasi sosial dan bisnis. Secara langsung juga mendukung kewirausahaan dan menunjang daya saing pelaku usaha Indonesia di era MEA ini,” paparnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.