BPS: Industri Manufaktur Sedang Bangkit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin, usai mengikuti Public Expose Sensus Ekonomi 2016 di Hotel Bidakara, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Rico Suyanto

    Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin, usai mengikuti Public Expose Sensus Ekonomi 2016 di Hotel Bidakara, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Rico Suyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin mengatakan industri manufaktur di Indonesia sedang bangkit. Meski nilainya turun, menurut dia, mesin dan peralatan mekanik adalah sektor yang banyak diekspor, yakni sebesar US$ 370 juta.  

    Nilai ekspor Indonesia pada Januari 2016 tercatat sebesar US$ 10,5 miliar, turun 20,72 persen dibandingkan Januari 2015 yang mencapai US$ 13,24 miliar.   

    "Penurunan ini juga bisa beralih ke pemenuhan dalam negeri karena industri manufaktur sedang bangkit," kata Suryamin di kantornya, Senin, 15 Februari 2016. Dia menjelaskan, saat ini ada 3,5 juta usaha mikro kecil. Peningkatan pertumbuhannya sebesar 5,79 persen. Sedangkan usaha menengah ada 23 ribu.

    "Pemerintah sedang menggarap usaha mikro kecil 3,5 juta ini," ujar Suryamin. Upaya yang ditempuh pemerintah adalah  melalui Paket Kebijakan VIII dan IX. Seperti  izin usaha disederhanakan, bantuan modal seperti kredit usaha rakyat (KUR), atau menumbuhkan penambahan usaha.

    Suryamin mengatakan pertumbuhan industri manufaktur yang besar membutuhkan waktu lama. Misalnya, membuat kendaraan bermotor atau membuat mesin-mesin dan peralatan perlu waktu enam bulan. "Tapi bisa dikendalikan dengan tumbuhnya usaha mikro, kecil, menengah," kata dia.

    Ia menduga ada pergeseran dari mengekspor menjadi menjual di dalam negeri saja. Sebabnya, pemerintah sedang menggalakkan usaha-usaha mikro kecil menengah dari berbagai sektor. Termasuk manufaktur untuk lebih berkembang.

    Menurut Suryamin, industri manufaktur bisa menggerakkan sektor pertanian. Bisa juga melibatkan para pekerja dari daerah pedesaan. "Salah satu dugaan kami, komoditas internasional harganya sedang tidak bagus, dijual di dalam negeri dan diproses lagi," ucapnya. 

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.