Perbankan Sulut Siap Dukung Sektor Perkebunan & Pariwisata

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokasi Gunung Nona yang memiliki panorama alam pegunungan dan berada di poros trans Sulawesi antara Makassar - Toraja tersebut menjadi salah satu obyek wisata bagi para pelintas sembari melepas lelah. TEMPO/Iqbal lubis

    Lokasi Gunung Nona yang memiliki panorama alam pegunungan dan berada di poros trans Sulawesi antara Makassar - Toraja tersebut menjadi salah satu obyek wisata bagi para pelintas sembari melepas lelah. TEMPO/Iqbal lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan perbankan siap mendukung geliat usaha sektor perkebunan dan pariwisata untuk meningkatkan aktivitas industrinya di Sulawesi Utara. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui penyaluran kredit hingga pendampingan pengembangan usaha.

    Hal tersebut tertuang dalam focus group discussion (FGD) bertajuk Peran Perbankan untuk Mendukung Potensi Strategis Sulawesi Utara, bertempat di Hotel Aston Manado, Rabu (10 Februari 2016).

    Diskusi ini diselenggarakan oleh Surat kabar harian (SKH) Bisnis Indonesia Perwakilan Manado guna mendiskusikan peran sektor perbankan dalam mendukung peningkatan kinerja sektor-sektor strategis seperti perkebunan dan pariwisata.

    Dendi Ramdani, Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri Tbk., mengatakan guna meningkatkan nilai tambah potensi Sulut, wajib bagi daerah ini mendorong industrialisasinya. Mulai dari investasi infrastruktur, pembenahan persoalan pariwisata, hingga peningkatan produktivitas secara umum.

    “Sulut bisa melakukan diversifikasi industrinya, baik sektor kelapa yang masih minim serta pariwisata. Dukungan perbankan tidak tanggung-tanggung nantinya, terbukti NPL dan LDR Sulut di atas rerata nasional,” tuturnya.

    Sulut yang memiliki potensi tanaman kelapa, diandalkan menjadi salah satu sektor strategis daerah. George Umpel, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sulut (Apeksu), mengatakan pada periode 1994 – 2000, Sulut dapat memprodusi 270.000 kopra per tahun, sementara sekarang sudah menyusut 40%.

    “Kelapa hanya bisa dipanen sampe Februari saja, sementara hingga November tidak bisa dipanen lagi. Lahan perlu rehabilitasi, kalau penanaman baru tidak dimungkinkan,” katanya.

    Menurutnya, kualitas hasil panen petani kelapa juga menjadi masalah. Teknologi sederhana ditambah dengan pemahaman petani yang minim menjadikan nilai tambah tidak maksimal. Melihat hal tersebut, Daniel Pesik, Wakil Ketua Kadin Sulut, mengatakan pembinaan untuk dunia usaha menjadi faktor penentu.

    “Bantuan tidak selalu terkait modal, tetapi bagaimana mereka diberi pembinaan, pemahaman permodalan hingga teknologi. Kalau sebatas modal, terkadang tidak memacu kinerja,” katanya.

    Sektor pariwisata yang menjadi unggulan, tidak bisa dimanfaatkan. Padahal, kekayaan alam baik darat dan laut menjadi pesona tersendiri. I Putu Anom Dharmaya, General Manager Hotel Aston Manado, mengungkapkan pengelolaan belum profesional, potensi lokasi wisata yang beragam tidak dimanfaatkan dengan baik.

    “Terlihat dari tingkat okupansi yang hanya berada pada rerata 60%. Sulut, khususnya Manado sudah memiliki hotel dengan kelas yang beragam, tetapi tidak juga okupansinya maksimal,” sambung Putu.

    Melihat geliat peluang bisnis di Sulut, A. Yusnang Deputi Direktur Bank Indonesia Sulut mengatakan perbankan sudah memberikan dukungan yang luar biasa. Pasalnya, LDR Sulut sepanjang 2015 mencapai 137,5%.

    “Berarti perbankan harus menghimpun dana dari luar daerah untuk mencukupi permintaan lokal. Sulut ini luar biasa potensial, semua aspek bertumbuh di atas nasional,” tambahnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.