Harga Minyak Turun, Laju Rupiah Diprediksi Menguat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Riset PT NH Korindo Securities Reza Priyambada mengatakan secara teknis hari ini penguatan rupiah kemungkinan bisa berlanjut meski jangka pendek. Kata Reza, meski dinaungi sentimen positif dari stabilnya inflasi, kembali turunnya harga minyak menjadi sentimen negatif laju rupiah.

    "Penguatan rupiah dapat kemungkinan berlanjut secara jangka pendek. Support rupiah pada 13.690 per dolar Amerika Serikat serta resisten 13.545. Tetap cermati sentimen yang ada terhadap laju rupiah," kata Reza Priyambada dalam pernyataannya, Rabu, 3 Februari 2016.

    Kembali melemahnya minyak dunia di level US$ 30 per barel membuat mata uang negara berkembang berbasis komoditas akhirnya melemah. Reza mengatakan penguatan dolar Amerika tersebut terjadi hampir di semua mata uang negara berkembang.

    Penguatan terjadi karena pelaku pasar melakukan aksi beli terhadap dolar ketika dalam beberapa hari terakhir dolar Amerika terus melemah. Namun, meski sentimennya negatif, laju rupiah pada data BI terlihat mampu bertahan di zona hijau seiring masih adanya imbas positif dari stabilnya inflasi dan afirmasi Moody’s sebelumnya.

    Reza mengatakan kemarin rupiah sempat berada di level Rp 13.610 dari sebelumnya di level Rp 13.635 per dolar Amerika di pasar spot valas atau cenderung menguat. Harga minyak yang kembali melemah menjadikan sentimen negatif sehingga memberikan ruang bagi dolar Amerika untuk berbalik menguat.

    DESTRIANITA KUSUMASTUTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.