PLN Merasa Diuntungkan dengan Pembangkit Listrik Turki  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal Pembangkit Listrik Marine Vessel Power Plant (MVPP) `Karadeniz Powership Zeynep Sultan` bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 8 Desember 2015. Kapal tersebut berkapasitas 120 Megawatt. TEMPO/Frannoto

    Kapal Pembangkit Listrik Marine Vessel Power Plant (MVPP) `Karadeniz Powership Zeynep Sultan` bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 8 Desember 2015. Kapal tersebut berkapasitas 120 Megawatt. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Amurang - Penggunaan kapal pembangkit listrik terapung asal Turki mempunyai sejumlah kelebihan di tengah defisit listrik yang dialami PLN Wilayah Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Sulutgo). "Kelebihan kapal pembangkit terapung ini selain kapasitasnya besar, juga sifatnya moveable, bisa dipindah ke tempat lain," kata Direktur Bisnis PLN Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara PLN Machnizon Masri di Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Sabtu, 16 Januari 2016.

    Kapal bernama Karadeniz Powership Zeynep Sultan itu telah merapat di Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, pada 24 Desember 2015. Kapal lego jangkar di bibir pantai di dekat PLTU Amurang. Di tahap awal, PLN akan melakukan sinkronisasi listrik dari pembangkit terapung berkapasitas 6 x 20 Megawatt ini ke sistem listrik Sulawesi-Gorontalo (Sulutgo) pada Ahad, 17 Januari 2016. Sinkronisasi dilakukan bertahap, di mana sinkronisasi satu unit pembangkit dilakukan hari demi hari.

    Menurut Machnizon, pembangkit ini bisa dialihkan ke tempat lain bila dibutuhkan. Selain itu, keberadaan pembangkit terapung juga membuat PLN lebih punya cadangan listrik bila pembangkit milik PLN memasuki masa overhaul. Sebab, di wilayah Suluttenggo, daya saat beban puncak mencapai 325 MW. Sementara daya mampu adalah 275 MW.

    "Kami masih defisit listrik 50 MW," kata General Manager PLN Wilayah Suluttenggo Baringin Nababan. Dia berharap keberadaan kapal pembangkit listrik ini bisa mengatasi persoalan defisit listrik di Suluttenggo.

    Machinizon mengatakan PLN menyewa pembangkit terapung ini dalam jangka waktu lima tahun. Nilai kontraknya adalah Rp 1.850 per kWh. Nilai itu sudah termasuk bahan bakar. PLN merasa diuntungkan karena nilai kontrak berada di bawah biaya pokok produksi PLN Rp 2.230 per kWh. Selain itu, PLN hanya akan membayar sesuai listrik yang digunakan. "Jadi sampai sekarang kami belum bayar. Nanti begitu dipakai berapa, baru dibayar."

    Keberadaan pembangkit ini dianggap sebagai solusi sementara defisit listrik di Suluttenggo. Menurut Machnizon, wilayah Suluttenggo mengalami krisis listrik selama bertahun-tahun dan belum ada solusi untuk menanganinya. "Kami harap ini jadi solusi interim defisit listrik yang ada," kata dia. Hingga saat ini, defisit listrik di Suluttenggo menyebabkan PLN harus melakukan pemadaman bergilir setiap harinya. Bahkan pemadaman bergilir juga dilakukan di Kota Manado, Minahasa, dan Bitung.

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.