Penumpang Angkutan Udara Indonesia Akan Jadi 5 Besar Dunia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mencoba kenyamanan didalam angkutan umum Kopaja AC sesudah peluncuran Kopaja AC P-19 dan P-20 di Ragunan, Jakarta, (5/7). Kopaja AC P-19 jurusan Tanah Abang-Ragunan dan P-20 jurusan Senen-Lebak Bulus dilengkapi fasilitas penyejuk udara, wifi serta dikenakan tarif lima ribu menggunakan kartu elektronik. ANTARA/M Agung Rajasa

    Warga mencoba kenyamanan didalam angkutan umum Kopaja AC sesudah peluncuran Kopaja AC P-19 dan P-20 di Ragunan, Jakarta, (5/7). Kopaja AC P-19 jurusan Tanah Abang-Ragunan dan P-20 jurusan Senen-Lebak Bulus dilengkapi fasilitas penyejuk udara, wifi serta dikenakan tarif lima ribu menggunakan kartu elektronik. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Transportasi Udara Internasional memprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan jumlah penumpang angkutan udara terbanyak kelima di dunia, yakni 219 juta penumpang pada 2034 mendatang.

    Director General and CEO Asosiasi Transportasi Udara Internasional (The International Air Transport Association/IATA) Tony Tyler mengatakan jumlah penumpang angkutan udara dunia bakal menembus lebih dari 7 miliar penumpang pada 2034.

    “Permintaan untuk angkutan udara akan terus tumbuh. Tetapi, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh setiap negara guna mengakomodir 7 miliar penumpang,” katanya dikutip dalam laporan tahunan IATA, Senin (30 November 2015).

    Dalam laporan tersebut disebutkan, China akan menjadi negara dengan jumlah penumpang terbanyak di dunia, yakni mencapai 1,12 miliar penumpang pada 2034, atau bertambah 758 juta penumpang baru.

    Kemudian, disusul Amerika Serikat sebanyak 1,15 miliar penumpang, India sebanyak 378 juta penumpang, Indonesia sebanyak 219 juta penumpang dan Brasil sebanyak 202 juta penumpang.

    “Dari sisi pembukaan rute-rute baru, Indonesia-Timor Leste akan menjadi yang tercepat pertumbuhannya, yakni 13,9%. Disusul, India-Hongkong sebesar 10,4%, Honduras 10,3%, dan Pakistan sebesar 9,9%,” ujar Tony.

    Menurutnya, angkutan udara menjadi bagian penting terhadap kondisi ekonomi dunia. Oleh karena itu, para penentu kebijakan harus mempertimbangkan secara matang setiap kebijakan yang dikeluarkan mengingat perannya yang krusial.

    Dia berharap para penentu kebijakan kedepannya dapat menciptakan suatu lingkungan yang kondusif terhadap industri penerbangan, baik terkait pengenaan pajak, penerbitan regulasi, dan pembangunan infrastruktur.

    Sementara itu, Ketua Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto menilai prediksi IATA agak sulit untuk terealisasi. Pasalnya, banyak hal yang harus dibereskan terlebih dahulu dalam industri penerbangan nasional ini.

    Syarat-syarat tersebut antara lain, pertama, konsistensi dalam menjamin keamanan dan keselamatan penerbangan sesuai aturan internasional. Kedua, infrastruktur bandara. Ketiga, kapasitas perawatan pesawat.

    Keempat, sistem dan peralatan navigasi yang mutakhir. Kelima, kompetensi sumber daya manusia. Keenam, pengenaan pajak dan bea masuk yang ringan atau sama dengan negara-negara tetangga dan lain sebagainya.

    “Jadi apakah prediksi IATA bahwa jumlah penumpang Indonesia sampai 219 juta penumpang itu jawabannya bisa ya dan tidak. Kalo ternyata syarat-syarat tersebut masih sulit dilakukan kemungkinan besar jawabannya itu tidak,” tuturnya.

    Di sisi lain, PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia memperkirakan kebutuhan investasi untuk pembangunan bandara di Indonesia hingga 2025 setidaknya mencapai US$25 miliar dolar seiring pesatnya pertumbuhan lalu lintas udara di Indonesia.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.