Pameran Dagang Indonesia Raup Transaksi US$ 909,31 Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi  Menteri Perdagangan Thomas Lembong melihat stand kain songket pada pameran Trade Expo Indonesia ke 30 di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Jakarta, 21 Oktober 2015. Tempo/ Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri Perdagangan Thomas Lembong melihat stand kain songket pada pameran Trade Expo Indonesia ke 30 di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Jakarta, 21 Oktober 2015. Tempo/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta -Pameran dagang terbesar Trade Expo Indonesia (TEI) di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran tahun ini membukukan total transaksi US$ 909,31 juta. Dari jumlah itu, transaksi produk sebesar US$ 857,37 juta, dan sisanya jasa. “Transaksi produk meningkat 5,29 persen dibandingkan hasil transaksi produk tahun lalu,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Nus Nuzulia Ishak di kantornya, Rabu, 18 November 2015.

    Uniknya, sebagian produk itu dibeli oleh negara-negara yang bukan pasar utama bagi Indonesia. Kementerian Perdagangan mencatat, pembeli yang paling banyak memborong di TEI berasal dari Mesir, Uni Emirat Arab, dan Turki. "Buyers pada TEI 2015 didominasi dari negara-negara non-tradisional, ini menunjukkan bahwa kebijakan diversifikasi pasar yang dilancarkan Pemerintah telah membuahkan hasil,” kata Nus.

    Rinciannya, transaksi dari pembeli asal Malaysia sebesar US$ 109,62 juta (12,78 persen); Uni Emirat Arab (UEA) sebesar US$ 86,24 juta (10,05 persen); Afrika Selatan sebesar US$ 52,01 juta (6,06 persen); Turki sebesar US$ 44,93 juta (5,24 persen), dan Mesir sebesar US$ 42,76 juta (4,98 persen). 

    Nus menyatakan, tekstil masih menjadi produk yang paling banyak diminati di TEI 2015 dengan total transaksi US$ 154,05 juta atau 17,96 persen dari total seluruh transaksi produk. Sementara produk-produk lainnya yang juga laris adalah furnitur yang menghasilkan transaksi sebesar US$ 116,26 juta (13,56 persen), dan makanan olahan sebesar US$ 107,99 juta (12,59 persen).

    Sementara itu, berdasarkan data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), perolehan sektor jasa pada TEI 2015 mencapai US$ 51,94 juta. Sebanyak 53,82 persen dari jumlah itu terserap ke sektor perkebunan; 23,93 persen ke sektor manufaktur; dan 20,22 persen ke sektor konstruksi. Selain itu, hanya 1,37 persen yang terserap ke sektor pertanian dan wisata.

    Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Eliya Rosalina Sunignyo menyatakan pemerintah memang sangat berhati-hati menempatkan tenaga kerja di sektor wisata atau hospitality. “Sebab, pekerjaan terkait wisata, terutama di hotel atau spa ini rawan diselewengkan ke prostitusi,” ujarnya. “Perlindungannya harus jelas betul.”

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.