Wall Street Anjlok Dipicu Kekhawatiran Ekonomi Cina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pialang di bursa efek New York Wallstreet (28/10).Perdagangan di bursa Wall Street kembali bergejolak karena kekhawatiran kejatuhan ekonomi yang berlarut-larut. Foto: AP/Richard Drew

    Seorang pialang di bursa efek New York Wallstreet (28/10).Perdagangan di bursa Wall Street kembali bergejolak karena kekhawatiran kejatuhan ekonomi yang berlarut-larut. Foto: AP/Richard Drew

    TEMPO.CO, New York -Saham-saham di Wall Street anjlok lebih dari tiga persen pada Jumat (Sabtu pagi WIB). Masalah ekonomi di Cina memicu aksi jual besar-besaran untuk hari kedua berturut-turut.

    Dalam sesi tunggal terburuk dalam hampir empat tahun, Dow Jones Industrial Average kehilangan lebih dari 500 poin, atau 3,12 persen, sedangkan indeks lebih luas S&P 500 merosot 3,19 persen dan indeks komposit Nasdaq turun 3,52 persen.

    Kemerosotan itu menyusul penurunan serupa di pasar Asia dan Eropa, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa pelambatan Cina akan menahan pertumbuhan di seluruh dunia dan bahkan memukul ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat.

    Memimpin penurunan di antara perusahaan terkemuka adalah perusahaan terbesar di dunia berdasarkan valuasi pasar, Apple, yang kehilangan 6,1 persen, atau sekitar 37 miliar dolar AS pada nilainya.

    Tetapi penurunan menjalar ke seluruh papan teknologi, energi, industri dan perusahaan pembiayaan, semua terpapar secara signifikan penurunan yang dipimpin Cina dalam ekonomi global: Microsoft kehilangan 5,7 persen, Chevron turun 4,4 persen, Bank of America merosot 3,7 persen, Boeing berkurang 3,9 persen, dan General Motors jatuh 4,0 persen.

    Dow Jones Industrial Average, yang didukung serangkaian rekor tertinggi tahun ini, berakhir turun 530,94 poin menjadi 16.459,75. Aksi jual selama dua hari menghapus setiap keuntungan yang dibuat pada 2015, mengambil indeks 30 saham unggulan (blue chips) -- dengan Apple terbesar -- ke tingkat terendah sejak Oktober tahun lalu.

    Indeks S&P 500 kehilangan 64,84 poin menjadi 1.970,89, juga membawanya kembali ke tingkat Oktober lalu. Komposit Nasdaq, yang telah mencatat keuntungan terkuat tahun ini, merosot 171,45 poin pada 4.706,04, sekitar 30 poin di bawah posisi akhir 2014.

    "Sentimen bergeser dalam cara yang sangat negatif dan Anda benar-benar melihat tidak ada tempat untuk bersembunyi hari ini," kata David Levy dari Kenjol Capital Management.

    Kenjol mengatakan aksi jual itu "berlebihan". Investor disarankan menunggu. "Anda harus menjaga sabuk pengaman Anda," katanya.

    Patrick O'Hare dari Briefing.com mengatakan bahwa yang mendasari aksi jual karena investor kehilangan kepercayaan pada kemampuan bank-bank sentral dari Beijing hingga Washington menggunakan kebijakan moneter mereka untuk merangsang pertumbuhan.

    Tetapi O'Hare juga menunjuk valuasi terlalu tinggi untuk saham AS baru-baru ini memberikan prospek pertumbuhan moderat dalam ekonomi AS.

    Intensitas aksi jual sama dengan di Eropa, di mana indeks utama kehilangan antara 2,8 persen hingga 3,2 persen.

    "Kami memiliki situasi ekonomi yang menantang di Tiongkok, yang kini telah mengambil langkah ekstrim mendevaluasi mata uangnya untuk mendukung ekonomi. Pelemahan itu merambah melalui pasar negara-negara berkembang dan sektor industri global," kata Lisa Emsbo-Mattingly, direktur alokasi aset di Fidelity, dalam catatan untuk nasabahnya.

    Harga obligasi meningkat di tengah pasar "bearish" dan penurunan 1,3 persen dalam dolar terhadap euro, menjadi 1,1375 dolar.

    Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS berjangka 10-tahun turun menjadi 2,05 persen dari 2,07 persen, sedangkan pada obligasi 30-tahun merosot ke 2,74 persen dari 2,75 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak berlawanan arah.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?