Ini Enam Kelemahan Tol Cipali  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengendara mobil beristirahat di depan Gerbang Tol Cikopo-Palimanan, Purwakarta, Jawa Barat, 18 Juni 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo.

    Sejumlah pengendara mobil beristirahat di depan Gerbang Tol Cikopo-Palimanan, Purwakarta, Jawa Barat, 18 Juni 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo.

    TEMPO.CO, Jakarta - Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) sepanjang 116,75 kilometer menjadi salah satu jalur alternatif untuk melintasi Jawa. Jalan bebas hambatan ini baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Sabtu, 13 Juni lalu, dan digratiskan pemakaiannya hingga 26 Juni mendatang.

    Sejak diresmikan, tol Cipali masih memiliki sejumlah kekurangan dan kelemahan. Karena itu, pengemudi perlu waspada melintasi jalan tol terpanjang di Indonesia ini. Ini enam kelemahan tol Cipali:

    1. Minim tempat peristirahatan
    Sangat disayangkan tol Cipali baru memiliki satu tempat peristirahatan (rest area), yaitu di Kilometer 102. Ned Syauta, asal Parung, Bogor, yang pernah melintasi jalur tol ini mengatakan, tujuh tempat peristirahatan lainnya masih dalam pembangunan.

    Satu-satunya tempat peristirahatan yang dilengkapi fasilitas musala, pujasera, toilet, dan SPBU, hanya ada di jalur menuju Palimanan. Para pengendara yang menuju Cikopo terpaksa harus menahan kantuk hingga melewati pintu tol Cikopo. “Kalau tidak menyegarkan diri, hilang kendali dua detik saja, bisa celaka,” katanya.

    Baca juga:

    Tol Cikapali Beroperasi, Macet Mudik Lebaran Pindah

    2. Fasilitas toilet kurang
    Kamar kecil menjadi salah satu hal yang penting bagi para pengemudi, khususnya keluarga yang membawa anak-anak. Dari pantauan Tempo, hanya ada satu toilet yang berisi belasan pintu, yaitu di tempat peristirahatan Kilometer 102. Hal ini tentu membuat para pengendara dari arah Palimanan harus menahan buang air lantaran tidak ada sama sekali kamar kecil selama di perjalanan. Tak heran, di pintu keluar Cikopo, orang berbondong-bondong antre agar bisa membasuh wajah atau sekalian membersihkan diri.

    3. Jalan terlalu landai
    Ned sempat mengeluh tentang jalan tol Cipali yang lurus terus dan tidak ada kelokannya. Kondisi jalan itu mengakibatkan dia mudah mengantuk karena jalannya tidak memberikannya tantangan dan kurang memaksanya untuk berpikir saat mengendarai. “Orang yang nyetir dari Jawa Timur pasti lelah dan akan semakin mengantuk dengan kondisi jalan yang landai ini,” katanya.

    4. Hanya sebagian jalan yang diaspal
    Kondisi jalanan di tol itu hanya sebagian saja yang sudah diaspal. Sisanya masih beton. Jalan yang diaspal biasanya berupa jembatan, atau beberapa bahu jalan, serta jalan di Kilometer 110-185. Jalanan aspal memang memberikan kenyamanan saat berkendara.

    Tempo sempat mencoba memacu kendaraan hingga kecepatan 140 kilometer per jam, dan hasilnya, jalan itu masih terasa mulus. Namun kemulusan itu dan jalan yang landai juga perlu diwaspadai. Dikhawatirkan kenyamanan itu bisa membuat para pengendara mengantuk.

    Sebaliknya, berkendara di jalan beton, memang akan sedikit membuat tergoncang dan tidak nyaman. Saat Tempo berkendara hingga kecepatan 120 kilometer per jam, para penumpang merasakan guncangan. Namun, sisi baiknya, jalan beton bisa memberikan peringatan kepada pengendara bila mengantuk di perjalanan.

    5. Kurangnya SPBU
    Stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) merupakan salah satu hal utama yang diperlukan para pengendara. Baru ada satu SPBU yang beroperasi dari yang seharusnya empat buah di kedua ruas jalan. SBPU yang beroperasi itu pun hanya berada di ruas jalan menuju Palimanan. Para pengendara menuju Cikopo harus selalu mengisi bensin kendaraannya secara penuh bila tidak ingin kehabisan bahan bakar.

    Salah satu petugas keamanan mengatakan sempat ada dua buah mobil yang kehabisan bahan bakar pada Kilometer 102 di ruas jalan menuju Cikopo. Akibatnya, petugas itu memberikan pinjaman dua buah jeriken untuk diisi ke SPBU terdekat.

    Baca juga: Tak ada SPBU, Dua Mobil Kehabisan Bensin di Tol Cipali

    6. Kurangnya marka jalan
    Selama tol itu beroperasi lima hari, belum terlihat adanya pusat informasi untuk keadaan darurat. Para pengendara tentu akan bingung bila terjadi sesuatu di perjalanan, dan membutuhkan bantuan tanpa adanya pusat informasi. Apalagi, penerangan hanya dipasang di jalan menuju persimpangan pintu keluar saja. Pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan bila terjadi kejadian darurat di jalan yang gelap.

    MITRA TARIGAN

    IKUTI: TEMPO HADIAH RAMADAN 2015


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.