Pertumbuhan Kredit Rendah, BNI Kaji Ulang Rencana Bisnis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nasabah mengisi slip rekening di Bank BNI, Kebun Sirih, Jakarta, (18/5). PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memberikan layanan perbankan kepada nasabah selama cuti bersama. Layanan yang diberikan bersifat terbatas dan dilakukan melalui outlet-outlet khusus di sejumlah lokasi tertentu. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Nasabah mengisi slip rekening di Bank BNI, Kebun Sirih, Jakarta, (18/5). PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memberikan layanan perbankan kepada nasabah selama cuti bersama. Layanan yang diberikan bersifat terbatas dan dilakukan melalui outlet-outlet khusus di sejumlah lokasi tertentu. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk tengah mengkaji rencana perubahan target bisnis menyusul pertumbuhan kredit yang terus melambat hingga April 2015.

    Achmad Baiquni, Direktur Utama BNI, mengatakan perseroan masih memiliki waktu hingga akhir Juni 2015 untuk menyampaikan perubahan rencana bisnis bank (RBB).

    "Kami pertimbangkan revisi RBB. Kredit sepertinya masih melambat, terlebih kami juga concern ke quality," ujarnya di Jakarta, Kamis malam, 4 Juni 2015.

    Dalam RBB yang disampaikan BNI pada awal tahun, pertumbuhan kredit BNI ditargetkan pada kisaran 15-17 persen. Namun BNI mengkaji untuk menurunkan target pertumbuhan ke level 13-14 persen.

    Per Maret 2015, pertumbuhan kredit BNI mencapai 9,1 persen dengan outstanding Rp 269,5 triliun. Adapun Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit perbankan hingga April 2015 hanya tumbuh 10,3 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan per Maret 2015 sebesar 11,1 persen.

    Di sisi lain, penurunan target pertumbuhan kredit juga akan memangkas target pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Baiquni mengatakan pertumbuhan DPK dipatok 1 persen lebih tinggi dari pertumbuhan kredit. Dengan kata lain, target pertumbuhan DPK juga akan turun pada kisaran 14-15 persen.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).