Senin, 20 Agustus 2018

Gedongan Tetap Jadi Alat Tenun Tradisional Favorit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada tenunan sutra tradisional Gedogan di Kabupaten Wajo, ragam hias terbagi dua jenis. Yaitu ragam hias pada jalur benang pakan, yang berarti ragam hias melingkar, serta ragam hias pada jalur benang lungsi, yang berarti ragam hias berdiri. Wajo, Sulawesi Selatan, 7 Mei 2015.TEMPO/Iqbal Lubis

    Pada tenunan sutra tradisional Gedogan di Kabupaten Wajo, ragam hias terbagi dua jenis. Yaitu ragam hias pada jalur benang pakan, yang berarti ragam hias melingkar, serta ragam hias pada jalur benang lungsi, yang berarti ragam hias berdiri. Wajo, Sulawesi Selatan, 7 Mei 2015.TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.COJakarta - Perajin tenun dari kalangan industri kecil dan menengah masih lebih meminati alat tenun tradisional, seperti gedogan, dan alat tenun bukan mesin (ATBM) ketimbang alat tenun mesin.

    Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Euis Saedah mengatakan, sejak dimulainya restrukturisasi mesin pada 2010, kebanyakan pelaku IKM masih mempertimbangkan ciri khas tradisional yang didapat dari alat mesin manual.

    “Lebih kelihatan tradisionalnya. Gedogan itu yang duduk di bawah alat. Kalau ATBM, sudah ada mekanisasi, artinya geraknya sudah dibantu alat tapi tidak pakai listrik,” ujarnya kepada Bisnis.com baru-baru ini.

    Dia menuturkan yang kerap menggunakan alat tenun mesin (ATM) biasanya industri yang sudah semipabrik. Umumnya banyak ditemui di Klaten, Pekalongan, dan Jepara.

    “Kalau ATM, bisa meniru hampir apa saja. Itu fenomena yang tidak bisa dilarang,” ucapnya.

    Lebih lanjut, Euis menjelaskan bahwa selain ATBM, mesin yang banyak diminta perajin dalam restrukturisasi mesin adalah mesin bordir, yang umumnya diimpor dari Cina.

    BISNIS.COM



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    INFO Atlet Andalan Indonesia di Asian Games 2018

    Inilah atlet-atlet andalan Indonesia di Asian Games 2018