Puji Keelokan Tidore, Jokowi Tawarkan Rp 3 Triliun Bangun Maluku Utara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga berjalan kaki menuju rumahnya, 19 Februari 2015. Kondisi infrastruktur yang minim menuju desa, membuat warga harus berjalan kaki sejauh 18 km dari perbatasan kabupaten Soppeng. TEMPO/Iqbal Lubis

    Seorang warga berjalan kaki menuju rumahnya, 19 Februari 2015. Kondisi infrastruktur yang minim menuju desa, membuat warga harus berjalan kaki sejauh 18 km dari perbatasan kabupaten Soppeng. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.COJakarta - Presiden Joko Widodo menjanjikan dana anggaran pembangunan infrastruktur Maluku Utara sebesar Rp 3 triliun.

    "Saya di kapal tanya Menteri PU (Pekerjaan Umum), apa yang bisa dikerjakan untuk rakyat Maluku Utara. Pak Menteri menjawab ada, proyek jalan dan lain-lain senilai Rp 3 triliun," kata Presiden Jokowi saat melakukan pencanangan pembangunan Kota Baru untuk ibu kota Provinsi Maluku Utara di Sofifi, Kota Kepulauan Tidore, Jumat, 8 Mei 2015.

    Pemerintah juga akan membangun pelabuhan di Ternate secara besar-besaran. "Tadi Menteri Perhubungan saya SMS total biaya berapa. Namun Menteri Perhubungan belum menjawab. Biar saya umumkan langsung ke rakyat," kata Jokowi.

    Jokowi menginginkan setiap ia ke daerah, setiap kebutuhan daerah harus dicek.

    Presiden Jokowi juga berjanji melakukan pembangunan secara besar-besar di Maluku Utara segera dimulai.  "Insya Allah tahun ini dimulai. Jadi jangan ada yang berpikiran Presiden ke sini ngapain, bawa triliunan. Inilah memulai dari kawasan timur," kata Jokowi.

    Jokowi meminta dalam pembangunan Kota Sofifi sebagai pusat pemerintahan Maluku Utara, karakter dan jati diri kota harus ditampilkan.

    "Kota ini kota yang sangat cantik dan indah. Saat saya di rumah dinas gubernur, saat membuka pintu, yang tampak adalah laut, gunung, kehijauan," kata Jokowi.

    Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa keindahan Maluku Utara tidak dimiliki negara lain. Maka, itulah yang harus dimunculkan sebagai identitas. "Sebab itu, dalam pembangunan itu jangan sampai keliru. Warga juga harus ditanya keinginan kotanya seperti apa, sehingga ada rasa memiliki," katanya.

    Presiden Jokowi mengatakan jangan sampai pembangunan kota memakai acuan yang keliru. 

    "Acuan (yang dipakai) justru, misalnya Manhattan, New York, tapi harus punya ciri khas, harus punya karakter. Jangan juga meniru Jakarta, tapi harus diberikan karakter" katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.