Ini Isu Menteri Gobel Saat Temui Lima Menteri APEC  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota pasukan militer berbaris untuk menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Bandara Internasional Beijing Capital di Beijing, Cina, 8 November  2014. GREG BAKER/AFP/Getty Images

    Anggota pasukan militer berbaris untuk menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Bandara Internasional Beijing Capital di Beijing, Cina, 8 November 2014. GREG BAKER/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Rachmat Gobel melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Malaysia, Hong Kong, Selandia Baru, Singapura, dan Korea Selatan di sela-sela pertemuan Organisasi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik di Beijing, Cina, kemarin, Sabtu, 8 November 2014.

    Seperti disampaikan Kementerian Perdagangan dalam siaran persnya kemarin, dalam pertemuan dengan Menteri Perdagangan Malaysia, pembicaraan ditekankan untuk mengaktifkan kembali Joint Trade and Investment Committee yang bertujuan menyelesaikan isu-isu perdagangan serta kerja sama tripartit dalam rangka International Tripartite Rubber Council. Itu berguna untuk meningkatkan harga karet alam dunia yang menguntungkan bagi produsen Indonesia. (Baca: Indonesia Minta APEC Lebih Pro-Rakyat)

    Saat bertemu dengan Menteri Perdagangan Hong Kong, Rachmat fokus pada usulan kerja sama pengembangan maritim. Saat ini Hong Kong menjadi salah satu pusat logistik internasional dan UKM, sehingga mampu menopang industri dalam negeri. Hong Kong disebut sangat berminat bekerja sama dengan sektor UKM Indonesia, apalagi akan dibukanya Kantor Dagang dan Ekonomi Hong Kong. Sedangkan kerja sama di bidang maritim disebut sesuai dengan program Presiden Joko Widodo yang ingin membesarkan maritim Indonesia di mata dunia internasional.

    Lalu, saat bertemu dengan Menteri Perdagangan Selandia Baru, Rachmat mendiskusikan kerja sama di sektor panas bumi sebagai salah satu bentuk energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan oleh kedua negara. (Baca: Indonesia Manfaatkan APEC Perkuat Konektivitas)

    "Pemanfaatan panas bumi sebagai salah satu energi alternatif dapat mengurangi penggunan energi berbahan fosil, dan ini tentunya sejalan dengan kebijakan pemerintah yang ingin mengalokasikan subsidi minyak ke sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, dan infrastruktur," kata Rachmat. Pertemuan dengan Selandia Baru juga menyepakati kerja sama di sektor pertanian.

    Isu konektivitas juga disampaikan Rachmat dalam pertemuan dengan Secretary of Commerce Hong Kong serta Menteri Perdagangan dan Industri Singapura. Kedua belah pihak berharap dapat mengembangkan infrastruktur dan logistik terkait dengan isu konektivitas. (Baca: Jokowi Ingin Indonesia-Cina Saling Percaya)

    Adapun saat bertemu dengan Menteri Perdangangan, Industri, dan Energi Korea Selatan, Rachmat menyampaikan kebijakan pemerintah dalam kerja sama internasional berdasarkan pada people oriented. Kerja sama ini, tutur dia, harus dapat menghasilkan outcome yang mempunyai nilai tambah.

    "Dalam waktu dekat, Kementerian Perdagangan akan melanjutkan koordinasi dengan instansi pemerintah yang terkait dengan seluruh isu kerja sama ASEAN-Kora FTA serta Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership," kata Rachmat.

    Menurut Kementerian Perdagangan, selama 2013, angka perdagangan Indonesia dengan lima negara tersebut senilai US$ 54,51 miliar dengan nilai total ekspor non-migas sebesar US$ 26,84 miliar dan total impor non-migas sebesar US$ 27,67 miliar. Kelima negara berkontribusi sebesar 25,82 persen dari total perdagangan migas dan non-migas Indonesia.

    KHAIRUL ANAM



    Berita lain:
    Nurul Arifin: Muntah Lihat Menteri Jokowi Blusukan
    Dukung Menteri Blusukan, Tweeps Bully Nurul Arifin
    Nurul Arifin Menyesal Tak Sebar Duit Saat Pemilu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.