Angka Inflasi pada Oktober 2014 Naik 0,47 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik Dr. Suryamin saat pemaparan data Statistik di Gedung Badan Pusat Statistik, Jakarta, Senin (2/1). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Kepala Badan Pusat Statistik Dr. Suryamin saat pemaparan data Statistik di Gedung Badan Pusat Statistik, Jakarta, Senin (2/1). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin mengatakan inflasi pada Oktober 2014 tercatat mengalami peningkatan. "Inflasi pada Oktober 0,47," kata dia di gedung BPS, Jakarta, Senin, 3 November 2014.

    Menurut Suryamin, secara tahunan inflasi tercatat sebesar 4,19 persen. Tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 4,83 persen. Untuk komponen inti, pada Oktober 2014 terjadi inflasi sebesar 0,27 persen. (Baca juga: Harga BBM Naik, Inflasi Bakal Tembus 9 Persen)

    Berdasarkan Indeks Harga Konsumen sepanjang Oktober, inflasi terjadi di 74 kota, sedangkan deflasi terjadi di delapan kota. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 2,18 persen dan inflasi terendah sebesar 0,06 persen. Untuk deflasi tertinggi terjadi di Kota Sorong sebesar 1,08 persen.

    Suryamin menjelaskan beberapa komoditas yang mengalami inflasi terjadi pada perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 1,04 persen. Komponen lain penyebab inflasi adalah sektor kesehatan sebesar 0,6 persen. (lihat juga: Cabai-cabaian Diramalkan Kerek Inflasi Oktober)

    Selain itu, komponen makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menyumbang sebesar 0,43 persen. "Ini merupakan dampak kenaikan harga rokok, tarif elpiji, dan listrik," dia menjelaskan.

    MAYA NAWANGWULAN

    Terpopuler :
    Jadi Menteri, Susi Tak Lagi Merdeka
    Pengusaha Rental Mobil Tertarik Gunakan Esemka
    Pangkas Antrean, PT KAI Luncurkan Tiket Model Baru
    Menteri Rudiantara Diminta Ubah Sistem TV Digital


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.