Kuartal III, BRI Raup Laba Bersih Rp 18 Triliun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ATM Bank BRI. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    ATM Bank BRI. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk membukukan laba bersih Rp 18,12 triliun sepanjang triwulan ketiga 2014. Laba yang diperoleh ini meningkat 19 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 15,23 triliun. (Baca: BRI Lindungi Nasabah Mikro dengan Asuransi AM-KKM)

    Menurut Direktur Utama Sofyan Basir, kenaikan laba bersih diperoleh dari melonjaknya kredit yang disalurkan sebesar Rp 464,19 triliun. "Pertumbuhan laba bersih ini menghasilkan earning per share (EPS) sebesar Rp 979,6, lebih besar daripada periode yang sama dengan tahun lalu sebesar Rp 823," ujarnya di Jakarta, Rabu, 22 Oktober 2014. (Baca: Laba BRI Syariah Naik 130 Persen)

    Penyaluran kredit masih didominasi segmen mikro dengan pertumbuhan 15,8 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp Rp 148,43 triliun atau meningkat Rp 20, 2 triliun. "Penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) realisasi outstanding KUR yang disalurkan BRI mencapai Rp 32,03 triliun atau meningkat 21, 94 YoY dengan jumlah nasabah 3 juta nasabah," tuturnya.

    Sofyan mengatakan pertumbuhan kredit tersebut diimbangi dengan posisi neraca yang likuid. Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) tercatat 85,29 persen pada September 2014, sedangkan kualitas aset produktif tetap terjaga dengan baik. Hal ini terlihat dari rasio kredit bermasalah (NPL) neto sebesar 0,46 persen.

    Meski begitu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BRI pada September 2014 naik. BRI mencatat NPL gros pada kuartal ketiga 2014 mencapai 1,89 persen, sedangkan NPL neto sebesar 0,46 persen. Angka ini naik tipis dibandingkan dengan NPL BRI pada September 2013, yaitu NPL gros sebesar 1,77 persen dan NPL neto 0,43 persen.

    Menurut Sofyan, kenaikan NPL disebabkan oleh adanya peningkatan kredit bermasalah di segmen menengah, seperti kredit yang disalurkan melalui kantor-kantor wilayah. Selain itu, NPL kredit sektor retail juga mengalami sedikit kenaikan. "Untuk kredit mikro dan konsumer, NPL-nya turun. Meski ada kenaikan NPL, sangat tipis, sedikit sekali dan masih terkendali," ujarnya.

    AMOS SIMANUNGKALIT

    Berita Terpopuler
    Ini Dia Calon Pembantu Presiden Jokowi
    Pelindo II Siapkan Acara Pengumuman Kabinet Jokowi
    Polisi Tangkap Basah Maling Spion Mobil Mewah
    Datang ke Istana, Siti Nurbaya Dites Jokowi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.