Sapi Impor Masuk Malang, Sapi Lokal Tetap Mahal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat sapi impor  Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/10). ANTARA/Wahyu Putro A

    Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat sapi impor Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/10). ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Malang - Sapi impor dari Australia masuk ke Malang beberapa bulan lalu. Namun masuknya sapi impor ini tidak mempengaruhi harga sapi lokal. Bahkan harga sapi lokal cenderung naik saat Idul Adha. Harga sapi lokal dewasa yang semula Rp 16 juta naik menjadi Rp 17,5 juta. "Sapi lokal tetap jadi primadona," kata Ketua Himpunan Pengusaha Muslim Indonesia Seksi Jagal Sapi Abu Hasan, Kamis, 9 Oktober 2014.

    Sedangkan sesuai beratnya, sapi lokal hidup seharga Rp 45 ribu per kilogram, lebih tinggi dari sapi impor yang hanya Rp 36 ribu per kilogram. Sapi impor kurang disukai lantaran dagingnya mengandung lemak lebih banyak dibandingkan sapi lokal. Sebab, masyarakat Malang lebih menyukai daging sapi tanpa lemak. Meski demikian, sapi impor tetap memiliki pasar tersendiri, yakni restoran dan rumah makan. (Baca berita sebelumnya: Malang Impor Sapi, Harga Daging Anjlok)

    Sebelumnya, sejak sapi impor dihentikan masuk ke Indonesia, harga sapi lokal melejit karena persediaan sapi tak sebanding dengan kebutuhan daging. Dampaknya, harga sapi meroket sampai Rp 100 ribu per kilogram. Tingginya harga sapi lokal membuat para jagal sapi melakukan aksi mogok dan menuntut dibuka kembali impor sapi dari Australia.

    Sapi impor dari Australia menjalani proses penggemukan di peternakan Agrisatwa Gondanglegi, Kabupaten Malang. Selanjutnya, sapi-sapi itu dipotong di sejumlah rumah potong hewan (RPH) untuk dipasarkan di Kota Malang. RPH milik Pemerintah Kota Malang setiap hari memotong sebanyak 40 ekor, 6 ekor di antaranya merupakan sapi impor.

    "Sapi impor dipotong di sini sejak sebulan lalu," kata Direktur RPH Kota Malang Djoko Sudadi. Persediaan daging sapi lokal sendiri juga masih melimpah, cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dengan demikian, sapi impor hanya menjadi alternatif masyarakat untuk mendapat daging murah dan berkualitas. (Baca juga: Tak Mewah, Sapi Impor Mestinya Bebas Bea Masuk)

    EKO WIDIANTO

    Terpopuler
    Koalisi Prabowo Kuasai Parlemen, Rupiah Lesu Darah  
    Koalisi Pro-Prabowo Bakal Ubah UU Perbankan dan Migas
    Pertikaian Kubu Jokowi-Prabowo Ancam Investasi  
    IMF Kembali Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?