Kata Praktisi Soal Aturan Pariwisata Religius  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seribu penari Barongan menari saat festival

    Seribu penari Barongan menari saat festival "Tari Kolosal 1000 Barongan" di jalan raya kawasan Simpang Lima Gumul (SLG), Kediri, Jatim, 16 Agustus 2014. Seribu penari barongan dari berbagai daerah di Kediri tampil bersama untuk menari massal untuk Pekan Budaya dan Pariwisata serta menyambut HUT RI ke-69. ANTARA/Rudi Mulya

    TEMPO.CO, Jakarta - Riyanto Sofyan, pemilik jaringan Hotel Sofyan, menyambut baik rencana pembuatan standardisasi syariah untuk pariwisata oleh pemerintah. Menurut Riyanto, ada dua paradigma yang perlu diubah untuk meningkatkan pertumbuhan pariwisata syariah, yakni tren masyarakat saat ini untuk mensosialisasikan pariwisata syariah dan perkembangan ekonomi masyarakat sendiri.

    "Kini masyarakat Barat sudah mulai back to nature, menggunakan hal yang halal," kata Riyanto dalam diskusi ekonomi syariah di Hotel Sofyan Syariah, Sabtu, 27 September 2014. (Baca: Garuda Indonesia Travel Fair 2014 Raup 223 Miliar)

    Menurut Riyanto, potensi ekonomi warga muslim dunia cukup besar. Berdasarkan demografi masyarakat dunia saat ini, sekitar 56 persen warga muslim berada dalam masa produktif. Mereka, ujar Riyanto, mulai mengubah kebiasaan dari muslim tradisional ke muslim futuris yang tidak menolak perubahan zaman.

    "Mereka lebih terbuka terhadap teknologi, life style, namun masih berpegang pada aturan agama," kata Riyanto. (Baca: Jakarta Gelar Gebyar Budaya)

    Dalam pertumbuhan ekonomi global, GDP negara Islam yang tergabung dalam organisasi OKI tercatat hingga GDP OKI US$ 9,6 triliun, persis di bawah pendapatan Amerika Serikat US$ 16 triliun dan di atas Cina yang hanya US$ 8,5 triliun. "Pertumbuhan negara OKI itu jauh lebih tinggi 6,3 dibanding negara lain yang hanya 5,3 persen," kata Riyanto.

    Dengan kondisi itu, kata Riyanto, perkembangan ekonomi syariah, khususnya sektor pariwisata syariah, ke depannya diperkirakan tumbuh cepat dengan potensi yang besar sekali. "Makanya kita berusaha untuk memacu pertumbuhan ekonomi syariah dengan label halal dan aman," kata Riyanto.

    Beberapa negara dunia, Riyanto menambahkan, seperti Thailand, Australia, dan Amerika, yang selama ini kurang memperhatikan perkembangan wisata syariah, mulai merancang strategi untuk menghimpun potensi mereka. "Kenapa kita tidak bisa bersaing dengan mereka? Saya berharap pemerintah menangkap potensi ini," kata Riyanto.

    Negara-negara itu, ujar Riyanto, mulai menawarkan konsep wisata syariah yang lebih aman dengan label halal. Dia pun tidak sungkan mencontohkan seluruh jaringan Hotel Sofyan yang mulai menanggalkan kebiasaan lama, yaitu kerap menyuguhkan minuman alkohol, dan menggantinya dengan kebiasan lain. "Pertumbuhan kami masih bagus, bahkan tahun lalu tumbuh 13 persen," kata Riyanto.

    JAYADI SUPRIADIN

    Terpopuler:
    RUU Pilkada, SBY Minta Dalang Walkout Diusut
    Demokrat Walkout RUU Pilkada, Ruhut: Siapa yang Ngibulin?
    UU Pilkada Tak Berlaku di Empat Daerah Ini
    Pengamat: RUU Pilkada Balas Dendam Kubu Prabowo
    Ahok dan Ridwan Kamil Bisa Jadi Motor Gugat UU Pilkada

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.