Kedelai Impor Mahal, Kedelai Lokal Sepi Peminat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Balai Pemulia Kedelai Muchlish Adie saat menunjukkan benih kedelai varietas baru di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI) Kendalpayak, Malang, Jawa Timur, Jumat 27 Juli 2012. Varietas baru tersebut adalah persilangan kedelai jenis Davros dengan plasma nutfah 2984 yang diberi nama Kedelai Toleran Kekeringan dan diperkirakan akan dipasarkan akhir tahun 2012. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Kepala Balai Pemulia Kedelai Muchlish Adie saat menunjukkan benih kedelai varietas baru di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI) Kendalpayak, Malang, Jawa Timur, Jumat 27 Juli 2012. Varietas baru tersebut adalah persilangan kedelai jenis Davros dengan plasma nutfah 2984 yang diberi nama Kedelai Toleran Kekeringan dan diperkirakan akan dipasarkan akhir tahun 2012. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Mahalnya harga kedelai impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, tidak membuat permintaan kedelai lokal melonjak. Padahal harga kedelai lokal dibanderol lebih murah. Misalnya di distributor kelas menengah di Pasar Legi, Surakarta, Jawa Tengah, harga kedelai lokal dibanderol Rp 6.600 per kilogram lebih murah dibandingkan kedelai impor yang dipatok Rp 7.900.

    Sofi, pegawai di distributor Dele Mas, mengatakan alasan produsen tahu dan tempe enggan membeli kedelai lokal karena komoditas ini sulit diolah. "Prosesnya lebih lama," katanya saat ditemui Tempo, Senin, 22 September 2014. (Baca: Rupiah Melemah, Harga Tahu Tempe Terancam Naik)

    Saat ini, mayoritas petani tengah panen raya di berbagai sentra penanaman kedelai membuat pasokan kedelai lokal membanjiri pasaran. Namun minat produsen tahu dan tempe membeli kedelai lokal tergolong rendah. Lesunya permintaan membuat pedagang kedelai tidak menyediakan kedelai lokal dalam jumlah besar.

    Seorang distributor kedelai di Pasar Legi, Surakarta, Santoso mengatakan mengambil kedelai lokal dari Ngawi dan Madiun, Jawa Timur. Menurut dia, kedelai lokal masih dibutuhkan produsen tahun dan tempe sebagai campuran dengan kedelai impor. Komposisinya 1:5 untuk kedelai impor. Santoso menilai dari segi kualitas kedelai impor lebih banyak kotorannya. "Bercampur kerikil dan tanah liat," katanya.

    UKKY PRIMARTANTYO

    Baca juga:
    PKS: Pilkada oleh DPRD Usulan SBY
    Istri AKBP Idha Endri Ditahan
    Gerindra Usung Taufik sebagai Pengganti Ahok
    Jokowi Pastikan Ubah APBN 2015
    Istri AKBP Idha Endri Kuasai Harta Bandar Narkoba


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.