Dilarang Beli BBM Pakai Jeriken, Nelayan Bingung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tumpukan jerigen solar kosong di perahu nelayan di Tangerang, Banten, 5 Agustus 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Tumpukan jerigen solar kosong di perahu nelayan di Tangerang, Banten, 5 Agustus 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sejumlah nelayan di kawasan Pantai Sadeng, Kabupaten Gunung Kidul, terpaksa gigit jari dan tak bisa melaut karena mereka tak bisa membeli bahan bakar minyak di stasiun pengisian bahan bakar umum. "Hari ini kami masih dilarang beli Premium karena membawa jeriken," kata Rujimanto, nelayan Pantai Sadeng, Gunung Kidul, kepada Tempo, Sabtu, 30 Agustus 2014.

    Di Pantai Sadeng terdapat sekitar 200 kapal motor nelayan. Sebagian kapal nelayan itu menggunakan bahan bakar solar, dan ada pula yang menggunakan Premium. "Setengah pakai Premium, setengah pakai solar," kata Rujimanto. (Baca: Pertamina Normalisasi Pasokan BBM di Jawa Timur)

    Rujimanto yang juga Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunung Kidul itu menuturkan sebenarnya sejumlah nelayan di Sadeng sudah akan melaut karena cuaca telah bersahabat. Dua bulan terakhir, nelayan tidak bisa melaut karena cuaca buruk disertai gelombang tinggi. Sabtu ini sedianya mereka akan menjalankan lima unit kapal motor untuk operasi pertama. Namun, saat menunjukkan jeriken untuk diisi BBM, petugas di SPBU Wonosari menolaknya. "Apa kami harus membawa kapal ke SPBU agar boleh isi BBM?" ujarnya.

    Rujiman mengaku tak membawa surat pengantar dari pemerintah karena menganggap situasi pasokan BBM sudah kembali normal. "SPBU itu juga langganan tetap nelayan sini," katanya. (Baca: Pertamina: Konsumsi BBM Semester I Terlalu Tinggi)

    Kepala Bidang Bina Usaha Dinas Kelautan Perikanan Gunung Kidul Yuni Hartini mengatakan nelayan yang hendak membeli bahan bakar untuk melaut perlu berkoordinasi kembali dengan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi. "Kami sudah komunikasikan dengan dinas terkait agar nelayan diberi surat pengantar baru sehingga bisa mendapatkan BBM dari SPBU untuk melaut," ujarnya.

    Meski demikian, Yuni menyebutkan surat pengantar tersebut juga tak serta-merta menjamin nelayan bisa mendapatkan akses membeli BBM di suatu SPBU. "SPBU punya kebijakan sendiri soal ini, kami tak bisa masuk, kecuali Pertamina," katanya. Akibatnya, dia melanjutkan, ada SPBU yang mau melayani jeriken nelayan, ada yang tidak. (Baca: Demokrat Sebut Alasan SBY Tak Naikkan Harga BBM)

    Pantauan Tempo di Yogyakarta, antrean kendaraan akibat pembatasan jatah oleh Pertamina hingga akhir pekan ini sudah normal. "Tak ada pembatasan, mau beli berapa banyak ada," ujar Pujo Widodo, pengelola SPBU Tegalrejo, Yogyakarta. (Baca: Kuota BBM Subsidi Masih 15,5 Juta Kilolite)

    PRIBADI WICAKSONO

    Terpopuler:
    Ajudan Nazar Akui Pernah Antarkan Uang buat Ibas
    Ini Ulah Pertama Balotelli di Liverpool 
    Warga Kutai Diterkam Buaya 
    Jokowi Tak Janjikan Jabatan, PPP Ogah Bergabung 
    Lama Tak Bertemu, Machfud: Anas Terkencing-kencing  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.