Solar Langka, Pengemudi Truk Menginap di SPBU  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengantre untuk mengisi BBM di salah satu SPBU di Jalur Pantura, Indramayu, Jawa Barat, 22 Agustus 2014. Sejumlah SPBU di jalur pantura mulai kehabisan stok BBM jenis Premium sehingga mengakibatkan antrian kendaraan. ANTARA/Dedhez Anggara

    Warga mengantre untuk mengisi BBM di salah satu SPBU di Jalur Pantura, Indramayu, Jawa Barat, 22 Agustus 2014. Sejumlah SPBU di jalur pantura mulai kehabisan stok BBM jenis Premium sehingga mengakibatkan antrian kendaraan. ANTARA/Dedhez Anggara

    TEMPO.CO, Jakarta: Sejumlah pengemudi truk terpaksa menginap di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) karena kehabisan solar. Pengemudi khawatir mereka tak bisa sampai ke tempat tujuan sehingga rela menginap untuk menunggu pasokan solar bersubsidi. "Sepanjang jalan ada enam pom bensin, tapi persediaan solar habis," kata seorang pengemudi truk, Wahyudianto, Selasa, 26 Agustus 2014. (Baca: Di Bandung, Premium Dibatasi Rp 50 Ribu per Mobil)

    Ia bersama sejumlah pengemudi lainnya menginap di SPBU Kelurahan Ciptomulyo, Kota Malang. Wahyu mengangkut tebu dari daerah Ngliyep, Kabupaten Malang. Rencananya tebu itu dipasok ke pabrik gula di Tulangan Sidoarjo. (Baca: Kuota BBM Subsidi di Jateng-DIY Tinggal 33 Persen)

    Akibat kelangkaan bbm solar bersubsidi, Wahyu terlambat mengantar tebu ke pabrik gula. Selain Wahyu, sejumlah pengemudi truk juga menginap menunggu kedatangan pasokan solar. (Baca: Premium Langka, Pertamina Akui Pangkas Kuota)

    Pengawas pompa bensin di Ciptomulyo, Roni Suprapto, mengatakan langkanya solar karena pasokan terlambat dan dibatasi. Setiap pekan biasanya dikirim empat kali, masing-masing 8 ribu liter. Namun sejak sepekan terakhir hanya dikirim tiga kali. "Pasokan BBM dikurangi, biasanya tak dibatasi," katanya. (Baca: Pertamina Bantah BBM Subsidi Langka)

    Ketua Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Malang Raya Teuku Rizal Pahlevi menjelaskan kelangkaan bbm solar dan Premium bersubsidi di Malang disebabkan kepanikan masyarakat. Mereka memborong bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi karena khawatir akan kehabisan persediaan. Padahal pengurangan pasokan BBM bersubsidi tak signifikan. "Masyarakat panik, mereka melakukan aksi borong," katanya.

    Mereka rela antre panjang untuk mendapat solar bersubsidi. Padahal, solar dan Premium nonsubsidi masih melimpah. Untuk itu, warga yang mampu diharapkan beralih membeli BBM nonsubsidi.

    Teuku Rizal mengatakan pasokan solar dan Premium dikurangi. Solar bersubsidi dipangkas dari 500 kiloliter menjadi 400 kiloliter per hari. Sedangkan pasokan Premium dikurangi 10 persen dari kebutuhan 1.000 kiloliter per hari.

    BBM bersubsidi tersebut dipasok ke 76 SPBU di Malang dan sekitarnya. Warga yang semula hanya membeli solar bersubsidi Rp 100 ribu, saat ini memilih mengisi penuh tangki mobilnya. Akibatnya pengendara lain yang kehabisan, rela antre.

    Pasokan BBM dikurangi untuk mengendalikan subsidi pemerintah. Tujuannya agar BBM bersubsidi bisa mencukupi hingga akhir tahun. Subsidi BBM semula mencapai 48 juta liter berkurang menjadi 46 juta liter atau dikurangi dua juta liter. Jika tak dikendalikan dikhawatirkan BBM hanya cukup sampai November mendatang.

    EKO WIDIANTO

    Terpopuler:
    Hari Ini, Tim Advokasi Prabowo Lapor ke Komnas HAM
    Polisi Panggil Pengurus Gerindra Soal Garuda Merah
    ISIS Rebut Pangkalan Militer Suriah
    Masuk Bursa Wali Kota Depok, Tifatul Direspons Negatif
    Ini Saran Komnas HAM kepada Tim Advokasi Prabowo


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.