Nestle: Pasokan Air Bersih Turun 35 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menyuci pakaian di eretan sungai Ciliwung, Jakarta, Selasa (28/2). Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya segera merealisasikan pembangunan proyek pengolahan air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi guna menambah pasokan air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Jakarta.  TEMPO/Aditia Noviansyah

    Warga menyuci pakaian di eretan sungai Ciliwung, Jakarta, Selasa (28/2). Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya segera merealisasikan pembangunan proyek pengolahan air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi guna menambah pasokan air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Laporan Creating Shared Value (CSV) Nestle Indonesia tahun 2013 menyebutkan pasokan air bersih menurun hingga 15-35 persen per kapita tiap tahunnya. Hal ini semakin mengkhawatirkan karena menurut USAID hampir 100 persen sumber daya air telah terkontaminasi bakteri E.Coli dan Coliform.

    "Padahal target MDG's adalah agar 68 persen penduduk Indonesia memiliki akses air bersih dan sanitasi kesehatan pada tahun 2015," ujar Presiden Direktur Nestle Indonesia Arshad Chaudhry dalam forum diskusi di Jakarta, Selasa, 18 Februari 2014.

    Karena itu, ia menyarankan adanya sinergi berbagai pihak untuk mendukung peningkatan keberlanjutan ketahanan pangan Indonesia. Sebab, pada masa mendatang ada banyak tantangan menghadapi keberlanjutan ketahanan pangan yang harus diatasi, seperti pertumbuhan penduduk, kesejahteraan, urbanisasi, dan dampak perubahan iklim.

    "Memang banyak upaya praktek berkelanjutan yang sudah dilakukan dengan baik di Indonesia, tapi saya percaya bahwa ada tantangan yang hanya dihadapi dengan kerja sama seluruh pemangku kepentingan," kata Chaudhry

    Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan pertumbuhan populasi Indonesia memang akan menjadi tantangan untuk mencapai keberlanjutan ketahanan pangan. Pada tahun 2030, populasi Indonesia diperkirakan akan mencapai 300 juta orang dengan permintaan akan makanan meningkat hingga 50 persen.

    "Dengan Indonesia yang berbentuk kepulauan tentu memang akan sulit untuk mendistribusikan kebutuhan jika hanya pemerintah sendiri yang bergerak," kata Rusman.

    Tak hanya soal pertumbuhan penduduk, menurut dia, Indonesia mendatang juga dihadapkan pada pertumbuhan kelas menengah yang sangat pesat. "Kelas menengah ini permintaannya lebih aneh-aneh karena ingin yang serba-berkualitas karena alasan memiliki uang," ujarnya.

    Belum lagi masalah lahan yang menjadi tantangan klasik peningkatan produksi pangan dalam negeri. "Ke depan pemerintah memang harus serius untuk menangani sektor agrikultural dengan menjalin kerja sama dengan pengusaha, petani, dan masyarakat," ucap Rusman.

    AYU PRIMA SANDI

    Berita terpopuler:
    Kilang Terbakar dan Nasib Karier Karen Agustiawan
    Sekolah Wirausaha tanpa Biaya ala Ir Ciputra 
    Menteri Perdagangan: Nasib Beras Vietnam Ditentukan Kamis
    Anggaran Subsidi Pupuk Organik Batal Dicabut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.