Alasan Industri Pulp dan Kertas Akan Digenjot  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/ Tulus Wijanarko

    TEMPO/ Tulus Wijanarko

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, menilai industri pulp dan kertas merupakan sektor yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Karena itu, industri ini harus mendapat perhatian dari segala pihak untuk ditingkatkan.

    "Industri ini memiliki daya saing yang baik di tengah potensi yang besar untuk dikembangkan," kata Panggah dalam media briefing Paperex Indonesia, Rabu, 22 Januari 2014.

    Saat ini, kata Panggah, hanya sedikit negara yang memiliki kemampuan dan potensi mengembangkan industri pulp dan kertas di dunia. Selain Indonesia, barangkali tinggal sejumlah negara di Amerika Latin yang bisa menjadi produsen pesaing. "Negara-negara Eropa sudah lama mengembangkan industri ini, sehingga pada titik tertentu saat ini sudah tidak bisa meningkat lagi," ujarnya.

    Menurut dia, kebutuhan kertas dunia telah mencapai 349 juta ton. Bahkan, diperkirakan bisa meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020. "Kebutuhan dunia sebesar itu bisa diisi oleh potensi di Indonesia," ujarnya.

    Berdasarkan catatan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, saat ini kapasitas terpasang industri pulp sebesar 7,9 juta ton per tahun, sementara kertas 12,98 juta ton per tahun. Adapun perusahaan pulp berjumlah 12 dan akan bertambah satu unit pada 2015. Penambahan tersebut akan meningkatkan kapasitas terpasang menjadi 8,23 juta ton per tahun.

    Hanya, Panggah tak memungkiri sejumlah tantangan yang harus dihadapi oleh industri dalam negeri. Terutama, black campaign dari lembaga-lembaga non-pemerintah perihal isu lingkungan. Untuk itu, Kementerian Perindustruan berencana menjadikan penerapan dokumen ilegal (SVLK) sebagai acuan global agar semakin kredibel. "Harus timbal balik, tak hanya kertas ekspor yang dipermasalahkan, tapi produk-produk impor juga," ujarnya.

    AYU PRIMA SANDI

    Berita Lainnya:
    Di Twitter, Eksistensi Ani SBY Kurang Populer
    Ani Yudhoyono Minta Maaf di Instagram
    Tak seperti Ani SBY, Michelle Cuekkan Olok-olokan
    Heboh Instagram Ani SBY, Muncul Situs IstanaGeram 
    Seperti Ani SBY, Instagram Istri Assad pun Didebat  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan RUU Perlindungan Data Pribadi

    Pembahasan RUU Perlindugan Data Pribadi sedianya sudah berjalan sejak tahun 2019. Namun sampai awal Juli 2020, pembahasan belum kunjung berakhir.