Kedelai Lokal Tidak Dilirik Pengusaha Tahu-Tempe

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja membuat tahu di sentra industri tahu tempe Ciuntu, Bandung, Jawa Barat, Senin (14/5). Harga kedelai melonjak ke kisaran Rp 7.000 per kg dari semula sekitar Rp 6.000. TEMPO/Prima Mulia

    Pekerja membuat tahu di sentra industri tahu tempe Ciuntu, Bandung, Jawa Barat, Senin (14/5). Harga kedelai melonjak ke kisaran Rp 7.000 per kg dari semula sekitar Rp 6.000. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Cianjur - Pasokan kedelai yang dihasilkan petani lokal, khususnya Cianjur, dinilai Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur masih belum bisa digunakan untuk proses pembuatan tahu dan tempe. Dengan demikian, pasokan tempe dan tahu yang diproduksi masih mengandalkan kacang kedelai dari impor.

    Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur Sudrajat Laksana mengatakan, hingga kini, untuk produksi tahu dan tempe belum bisa terpenuhi oleh produksi kedelai lokal.

    ”Makanya, untuk pasokan kedelai, masih membutuhkan dari impor. Untuk kedelai lokal ukurannya lebih kecil serta kualitasnya tidak cocok untuk pembuatan tahu dan tempe,” kata Sudrajat di Cianjur, Minggu, 12 Agustus 2012.

    Dia mengatakan jenis kedelai yang ada di Cianjur ini, yakni varietas orba, dpros, dan lokon, ukurannya jauh lebih kecil dari kedelai impor. Dengan demikian, jenis lokal kurang diminati oleh para pembuat tahu dan tempe. ”Rata-rata yang kami lihat di lapangan hasil dari panen kedelai hanya digunakan untuk susu kedelai, bubur kacang, dan makanan sapi," ujarnya. Namun, jika mereka menanam bibit kacang kedelai dengan ukuran besar seperti barang impor, harganya mahal dan tidak terjangkau para petani.

    Hidayat, 42 tahun, petani asal Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, mengaku tidak berminat menanam kedelai. Selain saat ini kondisi tanah mengering, harga produksi dan nilai jualnya pun tidak sebanding.

    Untuk membeli bibit kedelai, petani menghabiskan dana Rp 5.000 per kilogram. Meskipun disubsidi, mereka masih harus merogok kocek hingga Rp 2.000 per kilogram. Untuk kedelai kualitas unggulan, malah bisa mencapai Rp 12 ribu per kilogram. "Padahal yang dibutuhkan untuk satu hektare lebih dari 3 kuintal bibit, sehingga tidak seimbang,” katanya.

    Dia menambahkan, banyak kendala yang didapat saat menanam kedelai. Selain banyak yang mati, kedelai lokal kurang diminati. Seusai panen padi, mereka pun tidak menanam kedelai, tapi beralih profesi menjadi kuli bangunan atau usaha peternakan. "Jika ada bantuan dari pemerintah untuk pemberian bibit, kami mungkin akan berpikir untuk menanam kedelai,” ujarnya.

    DEDEN ABDUL AZIZ

    Berita Populer:
    26 Toko di Harco Glodok Terbakar
    Lebaran, PT KAI Sediakan Empat Jalur Kereta Ekonomi
    Sniper Disebar di Jalur Mudik Serang – Merak
    Tangkap Calo Kereta, Berhadiah Rp 500 Ribu
    Bus Nakal Naikkan Tarif, Adukan Saja
    Commuter Tak Mampir di Senen dan Gambir
    Foke Imbau Pemudik Tidak Bikin Sumpek Jakarta
    PKS Pilih Foke, Jokowi: Apa Saya Kurang Ganteng?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.