"Tingginya Harga Minyak bukan Akibat Pasokan"

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Tingginya harga minyak tanah di kalangan konsumen bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan minyak tanah dari Pertamina. Mahal itu ada di pengecer, bukan di pangkalan, kata Deputi Direktur bidang Pemasaran dan Niaga Pertamina Tuty Anggrahini di kantor Departemen Keuangan, Jakarta, Senin (6/1). Tuty menjelaskan, Pertamina menjual minyak tanah sesuai dengan keputusan pemerintah awal tahun ini, yakni Rp 700 per liter. Kemudian, harga di pangkalan (depo Pertamina) mengalami penyesuaian sesuai ketentuan pemerintah daerah setempat. Pemda menetapkan harga sesuai jarak antara Depo Pertamina dengan wilayahnya hingga radius 40 kilometer. Jadi setiap pemerintah daerah menetapkan harga yang berbeda. Harga pangkalan di DKI Jakarta adalah Rp 890, per liter, katanya. Harga ini yang dikenakan kepada para pengecer yang akan mendistribusikan minyak tanah kepada konsumen. Namun harga pengecer kepada konsumen sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Pertamina, kata Tuty, tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi harga kecuali dengan melakukan operasi pasar. Tujuannya untuk menstabilkan harga, katanya. Sasaran utama operasi pasar itu adalah wilayah-wilayah yang mengalami kelangkaan minyak tanah. Meski begitu, Pertamina juga akan berhati-hati dalam melakukan operasi pasar karena kuatir akan dimanfaatkan pihak-pihak lain yang ingin mengail di air keruh. Operasi pasar Pertamina sendiri sudah dilaksanakan sejak 5 Januari kemarin di seluruh Indonesia. Rencananya, operasi pasar akan dilaksanakan selama kurang lebih seminggu. Pertamina juga menghimbau pengecer untuk tidak menetapkan harga yang terlalu tinggi. Namun jika ada pangkalan yang berani menjual di atas harga yang ditetapkan pemerintah daerah, Pertamina tidak akan berdiam diri. Tidak ada maaf. Sanksinya adalah pemutusan hubungan usaha, katanya. Menurut Tuty, setiap pangkalan sudah memperoleh keuntungan Rp 70 per liter dari harga yang ditetapkan pemerintah daerah. Ia menyebutkan sudah banyak pangkalan yang telah terkena pemutusan hubungan usaha karena nakal. Jumlahnya lebih dari sepuluh hingga 14 pangkalan katanya. Hingga saat ini, jumlah pangkalan di seluruh Indonesia mencapai 30 ribu buah. Sementara agen penjualan di seluruh Indonesia mencapai 700 buah. (Dara Meutia Uning Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Kecelakaan Tol Cipali Dipicu Bus yang Supirnya Diserang Penumpang

    Kecelakanan Tol Cipali melibatkan empat kendaraan beruntun di kilometer 150, Senin dinihari, 17 Juni 2019 dipicu serangan penumpang pada supir.