Persaingan dengan Gojek usai Grab IPO di Amerika Serikat

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Fitur pemesanan ojek secara online, baik di GoRide (kiri) dan GrabBike, kini sudah tidak dapat diakses seiring dengan efektif berlakunya pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta per hari ini. TEMPO/Ariyani Yakti Widyastuti

    Fitur pemesanan ojek secara online, baik di GoRide (kiri) dan GrabBike, kini sudah tidak dapat diakses seiring dengan efektif berlakunya pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta per hari ini. TEMPO/Ariyani Yakti Widyastuti

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai penawaran saham (initial public offering/IPO) Grab di bursa Amerika Serikat (AS) membuat raksasa teknologi asal Singapura itu lebih unggul dibandingkan kompetitornya, Gojek.

    "Soal IPO, Grab tampaknya lebih unggul karena lebih dulu. Meski dalam hal merger ke pemain bisnis lain seperti e-commerce Gojek dan Tokopedia agak tertinggal atau belum sebagai langkah bisnis," kata Heru kepada Bisnis, Jumat, 3 Desember 2021.

    Menurut Heru, persaingan ride hailing di Indonesia terkonsentrasi pada dua pemain utama tersebut. Antara Grab dan Gojek saling berkejaran dan menduplikasi, baik layanan maupun strategi bisnis.

    Hal itu lanjutnya, juga berlaku dalam hal IPO. Dia meyakini Gojek juga akan melantai di bursa saham dalam waktu dekat. "Gojek akan resmi menyusul," katanya.

    Kamis, Grab melantai di bursa AS setelah investor menyepakati merger startup ride hailing tersebut dengan perusahaan cek kosong alias special purpose acquisition company (SPAC) yakni Altimeter Growth Corp. Nilai gabungan antara Grab dan Altimeter diprediksi memiliki valuasi ekuitas berdasarkan pro-forma sekitar US$ 39,6 miliar atau Rp 578,4 triliun.

    Nantinya, dalam IPO, gabungan perusahaan ini diproyeksi menerima US$ 4,5 miliar dalam bentuk aliran dana tunai dari investasi yang baru masuk.

    Sementara itu, Gojek dan Tokopedia berkombinasi untuk membentuk GoTo pada Mei 2021, dan sejak itu sudah tercipta banyak sinergi di antara merek Gojek, Tokopedia, dan GoTo Financial. Layanan GoTo mencakup transportasi on-demand, e-commerce, pengiriman makanan dan bahan makanan, logistik dan pemenuhan, serta layanan keuangan dan pembayaran.

    Belum lama ini, grup GoTo mengumumkan penutupan pertama penggalangan dana pra-IPO dengan perusahaan berhasil meraih lebih dari US$ 1,3 miliar dari investor. Investor lainnya diharapkan bergabung ke dalam putaran penggalangan dana pra-IPO menjelang penutupan akhir di beberapa minggu mendatang.

    Mengenai rencana IPO, Co-Founder sekaligus CEO Gojek Kevin Aluwi dalam sebuah konferensi pers virtual beberapa waktu lalu mengatakan perusahaan ingin terus membidik pasar di luar negeri dan terus mengembangkan layanan Gojek di luar Indonesia. Gojek, kata dia, berencana gencar ekspansi ke luar negeri dan juga menargetkan bisa mencatatkan saham perdana alias IPO tahun depan.

    BISNIS

    Baca juga: Kronologi Penanganan APJII Saat Gedung Cyber 1 Terbakar

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    RUU IKN: Ibu Kota Negara Baru Dinamai Nusantara

    Dengan UU IKN, pembangunan akan dilakukan secara bertahap. Ada tiga kementrian dan lebih dari dua ribu PNS yang akan dipindahkan pada tahap awal.