Cita-cita Pemerintah Kejar Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen Bakal Sulit Tercapai

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis memindahkan pasien Covid-19 ke ruang rawat inap di RSUD Cengkareng, Jakarta, Rabu, 23 Juni 2021. Angka kasus Covid-19 yang meningkat ini membuat sejumlah rumah sakit kewalahan dan kehabisan tempat perawatan. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Petugas medis memindahkan pasien Covid-19 ke ruang rawat inap di RSUD Cengkareng, Jakarta, Rabu, 23 Juni 2021. Angka kasus Covid-19 yang meningkat ini membuat sejumlah rumah sakit kewalahan dan kehabisan tempat perawatan. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memperkirakan cita-cita pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen di kuartal II sulit tercapai. Bhima memperkirakan momentum Lebaran dan Idul Fitri tidak akan mampu menyokong pelemahan perekonomian akibat meledaknya kasus Covid-19.

    “Memang kemarin ada Lebaran dan pembayaran THR secara penuh. Tapi optimisme konsumen sebenarnya semu. Pasca-naiknya kasus Covid-19, konsumen mulai bersiap untuk mengantisipasi dengan berhemat belanja dan menunda melakukan aktivitas konsumsi diluar rumah,” ujar Bhima saat dihubungi pada Kamis, 24 Juni 2021.

    Bhima menjelaskan kenaikan kasus positif virus corona, terutama di Indonesia, akan mempengaruhi kegiatan perekonomian. Masyarakat akan kembali melihat risiko peningkatan okupansi rumah sakit dan bertambahnya angka kematian.

    Memori masyarakat, tutur Bhima, akan terlempar pada Maret 2020 lalu saat efek masuknya kasus Covid-19 pertama kali di Indonesia berujung pada pengetatan pembatasan sosial. Kondisi ini berimbas pada pelemahan ekonomi yang terus-menerus diperkirakan terjadi sampai kuartal III 2021. Bhima memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III tahun ini berkisar 0,5-1 persen.

    Kendati penuh tekanan, Bhima mengatakan prospek pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV tergantung pada efektivitas pemberlakuan kebijakan pembatasan masyarakat skala mikro dilakukan. “Kalau kasus masih naik dan pembatasan tidak efektif menurunkan kasus harian, kuartal III berisiko mengalami pelemahan konsumsi dan komponen investasi,” katanya.

    Adapun kinerja sektor investasi dan konsumsi disebut-sebut lebih sensitif terhadap pandemi. Bhima mencontohkan investasi di bidang penambahan kapasitas pabrik. Dengan pembatasan mobilitas masyarakat, ia menyebut penyelesaian proyek investasi akan terhambat.

    Di tengah tekanan krisis pandemi pun, Bhima memperkirakan sektor-sektor yang mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi pada 2020 masih akan terpuruk. Dua di antaranya adalah sektor pariwisata dan transportasi yang disinyalir masih akan terkontraksi pada paruh kedua 2021.

    Baca: Terkini Bisnis: Warisan Utang Jokowi 10 Ribu T hingga PKPU Sritex Diperpanjang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.